Menjaga Nafas Pesisir: Ikhtiar BINUS University dalam Merajut Harmoni Reklamasi Berkelanjutan
Pesisir bukan sekadar garis batas antara daratan dan lautan, ia adalah rumah bagi ekosistem yang kompleks dan sumber kehidupan bagi jutaan masyarakat nelayan. Namun di balik potensi besarnya, wilayah ini kerap menghadapi tantangan serius akibat intervensi spasial permanen seperti reklamasi. Menyadari urgensi tersebut, BINUS University melalui tim dosen Teknik Sipil yang dilaksanakan oleh Bapak Oki Setyandito, bergerak ke jantung Pulau Dewata, tepatnya di Denpasar, Bali, pada awal Januari 2026. Bukan sekadar kunjungan biasa, kehadiran tim ini membawa misi besar, menjembatani kesenjangan antara kebutuhan pembangunan infrastruktur dan pelestarian lingkungan yang sering kali berbenturan di wilayah pesisir Indonesia.
Workshop bertajuk Penyusunan Naskah Akademik tentang Pengelolaan Reklamasi Pesisir ini menjadi ruang diskusi yang hidup bagi komunitas Perkumpulan Ahli Rekayasa Pantai Indonesia PARPI. Di sana, tim BINUS bersama para ahli membedah realita pahit di lapangan, bagaimana perubahan arus dan gelombang akibat reklamasi yang tidak terukur berpotensi memicu erosi lanjutan hingga degradasi ekosistem yang merampas ruang hidup nelayan. Ada sisi emosional yang mendalam ketika menyadari bahwa setiap kebijakan yang tertuang dalam kertas akademik nantinya akan berdampak langsung pada kesejahteraan keluarga keluarga yang menggantungkan hidupnya pada laut. Inilah wujud nyata kepedulian akademisi yang tidak hanya berdiam diri di menara gading, tetapi turun langsung merumuskan solusi atas keresahan masyarakat.
Secara profesional dan teknis, kegiatan ini menyoroti rapuhnya kepastian hukum akibat fragmentasi kewenangan antar lembaga dan ketiadaan standar teknis eksplisit dalam regulasi saat ini. Bapak Oki Setyandito bersama Ibu Yureana Wijayanti dan para mahasiswa mengidentifikasi bahwa tanpa regulasi payung yang kuat, risiko konflik sosial dan ketidakpastian investasi akan terus menghantui. Melalui pendekatan 5W+1H yang komprehensif, mereka berupaya menyusun draf Peraturan Pemerintah yang mampu mengintegrasikan standar teknis dan mekanisme pengawasan secara nasional. Langkah ini adalah bagian dari kontribusi strategis dalam mendukung Sustainable Development Goals SDG 11, demi menciptakan kota dan komunitas yang berkelanjutan di masa depan.
Lebih dari sekadar dokumen legal, naskah akademik yang dihasilkan merupakan bentuk diseminasi ilmu pengetahuan yang juga kembali ke ruang kelas sebagai materi pengayaan mata kuliah Case Study in Civil Engineering. Dengan melibatkan mahasiswa dalam studi kasus nyata, BINUS University memastikan bahwa generasi insinyur masa depan memiliki empati dan pemahaman mendalam tentang dampak sosial dari setiap proyek rekayasa yang mereka rancang. Sinergi antara edukasi dan pengabdian ini membuktikan bahwa inovasi terbaik lahir dari keinginan tulus untuk memecahkan persoalan regulatif dan teknis demi kepentingan orang banyak.
Kisah dari pesisir Bali ini hanyalah satu dari sekian banyak jejak nyata BINUS University dalam memberdayakan komunitas dan melindungi warisan alam kita. Perjalanan untuk mencapai pengelolaan pesisir yang ideal memang masih panjang, namun langkah kecil dalam merumuskan naskah akademik ini adalah fondasi krusial bagi kedaulatan maritim Indonesia yang lebih tangguh. Mari kita terus dukung inisiatif positif ini dan menjadi bagian dari perubahan untuk masa depan lingkungan yang lebih baik. Ingin tahu lebih banyak tentang bagaimana kontribusi BINUS dalam pemberdayaan masyarakat lainnya, kunjungi laman Community Empowerment kami dan mari berkolaborasi untuk menciptakan dampak yang lebih luas bagi Indonesia.-