Banyak penelitian lahir dari kerja panjang dan pemikiran mendalam, tetapi berhenti di ruang baca yang terbatas. Padahal, pengetahuan tidak pernah dimaksudkan hanya untuk dipahami segelintir orang. Malahan seharusnya bisa menjawab masalah, memicu diskusi, dan memberi arah bagi perubahan di masyarakat.

Di sinilah pentingnya science communication. Tanpa kemampuan menyampaikan riset secara relevan, temuan akademik mudah kehilangan daya jangkau. Akibatnya, jarak antara kampus dan realitas sosial tetap lebar, bukan karena ilmunya tidak berguna, tetapi karena ceritanya tidak sampai. Menguatkan komunikasi riset menjadi langkah penting agar pengetahuan tidak hanya valid secara akademik, tetapi juga bermakna secara sosial.

Kesadaran itu mendorong tim Community Empowerment & Technology Transfer BINUS University mengadakan sosialisasi bagi para Research Coordinators serta PIC Research & Empowerment pada Jumat, 30 Januari 2026 di Kampus Anggrek, BINUS University. Dalam forum ini, peserta diajak melihat bagaimana science communication dapat dioptimalkan secara strategis, mulai dari menerjemahkan bahasa akademik menjadi narasi yang mudah dipahami, memilih kanal komunikasi yang tepat, hingga mengaitkan hasil penelitian dengan kebutuhan masyarakat dan industri. Pendekatannya bukan sekadar pemaparan konsep, tetapi berbasis contoh nyata agar peserta dapat langsung membayangkan penerapannya di unit masing-masing.

Perubahan yang diharapkan bukan hanya peningkatan visibilitas publikasi, melainkan pergeseran cara pandang. Peserta mulai memahami bahwa riset memiliki nilai lebih besar ketika dapat dipahami di luar komunitas akademik. Komunikasi yang tepat mampu memperluas jangkauan, mendukung performa departemen, sekaligus memperbesar dampak sosial dari penelitian yang dilakukan.
Pada akhirnya, pengetahuan tidak cukup hanya akurat, tapi perlu dipahami juga. Melalui upaya ini, kolaborasi internal kampus diarahkan untuk memastikan setiap penelitian punya peluang memberi manfaat nyata. Komunikasi menjadi jembatan antara pengetahuan dan perubahan, sekaligus langkah berkelanjutan agar riset tidak hanya tersimpan, tetapi benar-benar hidup di tengah masyarakat.

