Di balik deru mesin jahit dan tumpukan kain yang menunggu dirapikan, banyak usaha kecil terus berjuang mengikuti perubahan zaman. Para pelaku UMKM tidak hanya memikirkan produksi setiap hari, tetapi juga bagaimana menjaga usaha tetap bertahan di tengah persaingan yang semakin cepat. Teknologi sering disebut sebagai kunci masa depan bisnis, tetapi bagi sebagian pelaku usaha kecil, dunia digital masih terasa seperti wilayah yang jauh dan sulit dijangkau.
Kondisi ini membuat pemanfaatan AI untuk UMKM menjadi topik yang semakin relevan. Artificial Intelligence sering dipersepsikan sebagai teknologi besar yang hanya digunakan oleh perusahaan besar atau industri digital. Padahal, banyak proses sederhana dalam usaha kecil—mulai dari pengelolaan pesanan, pencatatan produksi, hingga pengambilan keputusan bisnis—sebenarnya bisa dibantu oleh teknologi ini. Tanpa pemahaman yang tepat, peluang efisiensi dan inovasi tersebut sering terlewat begitu saja oleh pelaku usaha yang sebenarnya sangat membutuhkannya.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, para dosen BINUS University melalui Community Empowerment menghadirkan sesi pelatihan pemanfaatan AI bagi usaha garment milik Pak Zam yang dilaksanakan pada 26 Februari 2026. Kegiatan ini melibatkan dosen Rulyna, S.Kom., M.M., Secuandra Elania Rachma H., ST, M.M., dan Carola Basuki, S.Kom., SE, M.M., yang mendampingi para pegawai usaha secara langsung melalui pendekatan yang praktis dan kontekstual. Bertempat di lingkungan usaha garment tersebut, peserta diajak memahami teknologi dari sudut pandang aktivitas kerja mereka sehari-hari. Melalui diskusi studi kasus operasional bisnis garment dan simulasi penggunaan berbagai tools AI sederhana, para peserta belajar bagaimana teknologi dapat membantu mempercepat proses kerja, mengelola informasi usaha, serta mendukung pengambilan keputusan bisnis secara lebih efisien.
Bagi para pegawai, pengalaman ini membuka cara pandang baru terhadap teknologi. AI yang sebelumnya terasa asing mulai dipahami sebagai alat bantu kerja yang praktis. Beberapa peserta bahkan mulai mencoba memanfaatkan tools yang diperkenalkan untuk membantu menyusun ide promosi, mengelola informasi usaha, dan memahami potensi efisiensi dalam proses produksi. Pengetahuan baru ini tidak hanya menambah keterampilan, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri bahwa teknologi bukan lagi sesuatu yang jauh dari dunia UMKM.

Lebih dari sekadar pelatihan singkat, kolaborasi seperti ini menunjukkan bagaimana pengetahuan dari dunia akademik dapat menjawab kebutuhan nyata di lapangan. Ketika kampus dan pelaku usaha kecil bekerja bersama, teknologi tidak lagi terasa eksklusif, melainkan menjadi alat yang bisa diakses dan dimanfaatkan oleh siapa saja. Melalui inisiatif Community Empowerment, langkah-langkah kecil seperti ini terus diupayakan agar semakin banyak UMKM yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan membangun masa depan usahanya dengan lebih percaya diri.

