Di banyak sudut kota, usaha kecil tumbuh dari dapur rumah, garasi sempit, atau kios sederhana. Produk yang dihasilkan sering kali dibuat dengan ketekunan dan kualitas yang tidak kalah dari brand besar. Namun di tengah pasar yang semakin ramai, tidak jarang produk-produk ini lewat begitu saja di mata calon pembeli—bukan karena rasanya kurang atau kualitasnya rendah, melainkan karena tampilannya belum mampu menceritakan keunggulan yang mereka miliki.

Bagi pelaku usaha kecil, membangun identitas brand sering kali bukan prioritas utama. Fokus mereka biasanya ada pada produksi, distribusi, dan menjaga pelanggan tetap datang. Padahal, identitas visual UMKM seperti logo, warna, dan kemasan memiliki peran penting dalam membentuk kesan pertama konsumen. Identitas visual yang kuat membantu produk lebih mudah dikenali, dipercaya, dan diingat, terutama ketika bersaing di pasar digital yang penuh dengan pilihan.
Kesadaran inilah yang kemudian mendorong hadirnya kolaborasi antara akademisi dan pelaku usaha. Pada 26 Februari 2026, melalui Community Empowerment BINUS University, para dosen dari bidang Desain Komunikasi Visual yaitu Budi Sriherlambang, S.Sn., M. in Imagineering., dan Dewi Kumoratih, S.Sn., M.Si. mendampingi para pelaku UMKM di Kelurahan Sukabumi Utara dalam sesi review dan pengembangan identitas visual usaha. Kegiatan ini dirancang fleksibel melalui pertemuan onsite dan online agar para pelaku usaha tetap dapat mengikuti sesi sambil menjalankan aktivitas produksi mereka. Dalam suasana diskusi yang terbuka, peserta membawa logo yang sudah dimiliki maupun ide desain yang masih sederhana. Bersama para dosen, mereka mengevaluasi pilihan warna, bentuk, serta konsep visual agar identitas brand dapat lebih mewakili karakter produk dan lebih menarik bagi calon pelanggan.

Bagi banyak peserta, sesi ini menjadi pengalaman yang membuka perspektif baru. Logo yang sebelumnya dibuat sekadarnya mulai dipahami sebagai wajah dari sebuah usaha. Beberapa pelaku UMKM mulai menyesuaikan elemen visual agar lebih konsisten dengan produk yang mereka tawarkan. Dengan identitas visual yang lebih terarah, mereka merasa lebih percaya diri ketika memasarkan produk, baik di pasar lokal maupun melalui platform digital.

Lebih dari sekadar memperbaiki desain, proses pendampingan ini menunjukkan bagaimana pengetahuan kreatif dapat membantu usaha kecil berkembang. Ketika kampus hadir tidak hanya sebagai pusat pembelajaran, tetapi juga sebagai mitra masyarakat, lahir ruang kolaborasi yang saling menguatkan. Melalui inisiatif seperti ini, Community Empowerment BINUS terus mendorong agar UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu membangun identitas yang kuat dan siap menghadapi persaingan yang semakin dinamis.

