Lingkungan yang aman tidak tercipta dengan sendirinya. Di setiap ruang belajar maupun tempat kerja, rasa aman tumbuh ketika setiap individu saling menghargai, berani peduli, dan tidak menutup mata terhadap tindakan yang dapat merugikan orang lain. Sayangnya, masih banyak korban maupun saksi kekerasan yang memilih diam karena takut, bingung, atau tidak mengetahui ke mana harus mencari bantuan. Padahal, dukungan dan respons yang tepat dapat menjadi langkah awal untuk mencegah dampak yang lebih besar.
Mewujudkan kampus aman bukan hanya menjadi tanggung jawab sebuah institusi, tetapi juga seluruh anggota komunitas di dalamnya. Kesadaran untuk mengenali berbagai bentuk kekerasan, memahami hak setiap individu, serta mengetahui mekanisme pelaporan menjadi bekal penting dalam membangun lingkungan yang inklusif dan saling mendukung. Ketika setiap orang memiliki keberanian untuk mendengar, menghormati, dan bertindak secara tepat, budaya saling menjaga akan tumbuh secara alami dan memperkuat rasa percaya di lingkungan akademik.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya tersebut, Research & Technology Transfer (RTT) BINUS University menyelenggarakan sosialisasi internal bersama Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPATK) pada 20 Mei 2026 di Ruang 700 BINUS Kampus Anggrek. Mengusung tema “Be The Voice of the Voiceless: Creating a Safe Campus”, kegiatan ini menjadi ruang belajar bagi sivitas akademika untuk memahami berbagai bentuk kekerasan, langkah pencegahan, serta mekanisme penanganan yang berlaku di lingkungan perguruan tinggi. RTT juga menjadi unit pertama di BINUS University yang menghadirkan Satgas PPATK sebagai narasumber. Dalam sesi yang dipandu oleh Lydiawati Kosasih, Roosalina Wulandari, dan Anggita Dian Cahyani, peserta diajak memahami bahwa menciptakan kampus yang aman dimulai dari kepedulian setiap individu terhadap orang-orang di sekitarnya.
Sosialisasi ini memperkuat pemahaman peserta bahwa menciptakan lingkungan yang aman memerlukan partisipasi aktif seluruh komunitas kampus. Melalui diskusi dan berbagi pengalaman, peserta memperoleh pengetahuan mengenai cara mengenali situasi yang berpotensi menimbulkan kekerasan, memberikan dukungan kepada korban, serta memanfaatkan jalur pelaporan yang tersedia. Semakin banyak individu yang memahami peran tersebut, semakin kuat pula budaya saling menghormati, saling melindungi, dan membangun lingkungan belajar yang nyaman bagi semua.
Membangun lingkungan yang bebas dari kekerasan merupakan proses yang membutuhkan komitmen bersama dan dilakukan secara berkelanjutan. Kolaborasi antara institusi, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan mahasiswa menjadi fondasi penting untuk menciptakan ruang akademik yang aman, inklusif, dan penuh rasa hormat. Melalui Community Empowerment BINUS, berbagai inisiatif yang mendorong kepedulian, edukasi, dan pemberdayaan terus dikembangkan agar setiap anggota komunitas memiliki keberanian untuk menjadi bagian dari terciptanya lingkungan yang lebih aman dan mendukung bagi semua.

