Labuan Bajo terus berkembang sebagai salah satu destinasi wisata yang menarik perhatian banyak orang. Di tengah pertumbuhan tersebut, muncul kebutuhan untuk memastikan bahwa kemajuan pariwisata tetap berjalan seiring dengan kehidupan masyarakat yang menjadi bagian dari identitas daerah. Budaya, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat perlu mendapat ruang yang sama agar perkembangan sebuah daerah dapat dirasakan secara luas dan bertahan dalam jangka panjang.

Tantangan tersebut membuat pembangunan berkelanjutan semakin relevan bagi masyarakat Labuan Bajo dan Kabupaten Manggarai Barat. Pertumbuhan pariwisata membawa peluang ekonomi, tetapi juga membutuhkan kesiapan masyarakat untuk mengambil bagian di dalamnya. Penguatan kapasitas, pemberdayaan UMKM, pengembangan potensi lokal, literasi digital, serta riset yang memahami kebutuhan daerah menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem yang mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan keberlanjutan.

Semangat kolaborasi tersebut terlihat dalam partisipasi BINUS University pada Festival Golo Koe 2026 yang berlangsung pada 10–15 Agustus 2026 di Kawasan Marina Waterfront Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Festival yang dibuka oleh Bupati Manggarai Barat dan Uskup Labuan Bajo ini menjadi ruang pertemuan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap masa depan daerah. Bagi BINUS University, keterlibatan tersebut menjadi bagian dari Proyek Inisiatif (ProIn) Labuan Bajo, sebuah living laboratory yang dikembangkan sejak 2024 dengan mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, Gereja, komunitas, dan berbagai mitra, program ini diarahkan pada penguatan kapasitas masyarakat lokal, pengembangan agrowisata berbasis komunitas, pemberdayaan UMKM, peningkatan literasi digital, serta riset yang dapat mendukung kebijakan dan pembangunan daerah.

Pendekatan tersebut membuka kesempatan bagi dosen dan mahasiswa untuk belajar bersama masyarakat sekaligus menerapkan pengetahuan pada persoalan yang dihadapi di lapangan. Pemberdayaan dan pendampingan masyarakat menjadi ruang untuk memahami potensi lokal secara lebih dekat, sementara penelitian terapan dapat membantu menghasilkan gagasan yang relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah. Dengan cara ini, pengetahuan yang berkembang di lingkungan perguruan tinggi dapat bertemu dengan pengalaman dan kebutuhan masyarakat, sehingga peluang terciptanya solusi yang kontekstual menjadi semakin besar.

Pembangunan daerah pada akhirnya membutuhkan lebih dari satu pihak untuk bergerak dalam arah yang sama. Ketika perguruan tinggi, pemerintah, Gereja, komunitas, dan masyarakat saling menguatkan, potensi lokal memiliki ruang yang lebih besar untuk berkembang tanpa kehilangan akar budaya dan kepedulian terhadap lingkungan. Melalui Community Empowerment BINUS, kolaborasi jangka panjang terus didorong agar pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dapat menjadi bagian dari perjalanan Labuan Bajo menuju pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan memberi manfaat bagi masyarakat.


