Masa pembinaan bagi anak yang berhadapan dengan hukum tidak berhenti pada proses menjalani masa hukuman. Di balik setiap anak, ada pengalaman, emosi, cara berpikir, serta harapan yang perlu dipahami agar mereka memiliki ruang untuk berkembang. Karena itu, memahami kondisi psikologis mereka menjadi bagian penting dalam membantu anak mempersiapkan diri untuk kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Pemetaan psikologis anak binaan dapat menjadi langkah awal untuk mengenali kebutuhan mereka secara lebih utuh. Melalui assessment observasi dan interview, berbagai aspek psikologis dapat dipahami dengan lebih dekat sehingga pendampingan dapat diberikan secara lebih sesuai. Pendekatan ini penting karena setiap anak memiliki latar belakang dan pengalaman yang berbeda, sementara proses pembinaan membutuhkan pemahaman yang tidak hanya melihat perilaku di permukaan.


Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan komunitas jurusan dari BINUS University yang melibatkan dosen Arlianto, S.Psi., M.A. bersama komunitas di LPKA Kelas 1 Tangerang pada 21 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–15.00 WIB ini berfokus pada pemetaan psikologis anak binaan melalui assessment observasi dan interview. Berlangsung di lingkungan LPKA Kelas 1 Tangerang, Jl. Daan Mogot No. 29 C, Kota Tangerang, pendekatan observasi dan wawancara digunakan untuk memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kondisi psikologis anak binaan. Kolaborasi antara akademisi dan komunitas menjadi ruang untuk menghadirkan pengetahuan psikologi secara lebih dekat dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Dari proses tersebut, pemetaan psikologis dapat menjadi dasar untuk memahami karakteristik, kebutuhan, serta kondisi anak binaan secara lebih terarah. Output kegiatan berupa hasil assessment dan pemetaan psikologis memberikan informasi yang dapat mendukung proses pendampingan dan pembinaan agar lebih responsif terhadap kebutuhan anak. Dengan pemahaman yang lebih baik, perhatian terhadap kesejahteraan psikologis dapat ditempatkan sebagai bagian penting dalam proses mempersiapkan anak untuk membangun kembali kepercayaan diri, mengenali potensi diri, dan menghadapi kehidupan setelah masa pembinaan.
Pada akhirnya, proses pembinaan anak membutuhkan lebih dari sekadar aturan dan pendampingan sehari-hari. Dibutuhkan kemauan untuk mendengarkan, memahami, dan melihat setiap anak sebagai individu yang masih memiliki kesempatan untuk bertumbuh. Kolaborasi antara akademisi dan komunitas seperti ini menunjukkan bahwa kontribusi pendidikan dapat hadir secara nyata dalam persoalan sosial di masyarakat. Melalui Community Empowerment BINUS, pengetahuan dan kepedulian terus diupayakan untuk berjalan bersama masyarakat, sehingga dampaknya dapat menjadi bagian dari proses perubahan yang berkelanjutan.

