Bagi sebuah desa yang memiliki potensi wisata, memperkenalkan keindahan dan aktivitas lokal kepada masyarakat luas merupakan langkah penting untuk membuka peluang baru. Desa Kenteng di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, memiliki beragam daya tarik, mulai dari pengalaman menginap di alam terbuka melalui glamping, belajar membatik dengan teknik sibori, mengenal proses pembuatan Tahu Serasi dan olahan kedelai, hingga melihat perkebunan tomat. Potensi tersebut menyimpan cerita dan pengalaman yang menarik untuk dikenal lebih banyak orang, tetapi masyarakat perlu mendapatkan akses informasi yang mudah agar dapat mengetahui apa yang ditawarkan desa ini.

Informasi yang mudah ditemukan dapat membantu calon pengunjung merencanakan perjalanan sekaligus membuka kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk mereka. Sebelumnya, penyebaran informasi Desa Kenteng masih menghadapi kendala karena informasi mengenai wisata, kegiatan desa, layanan publik, dan usaha masyarakat belum tersedia secara lengkap di satu tempat. Karena itu, pengembangan website desa wisata menjadi salah satu langkah untuk memperluas jangkauan informasi, membantu masyarakat mengenali potensi lokal, dan memudahkan publik mengakses informasi desa tanpa harus datang langsung ke kantor desa.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim dosen BINUS University dari jurusan Computer Science & Creativepreneurship mengembangkan website Desa Kenteng melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat pada 2023. Kegiatan bertajuk Perancangan dan Pengembangan Website untuk Desa Wisata Bandungan dengan kode FG2023008 ini dipimpin oleh Evawaty Tanuar sebagai ketua tim, bersama Violitta Yesmaya, S.Kom., M.T.I., dan Dr. Doni Purnama Alam, S.Kom., M.M., sebagai anggota. Melalui diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion atau FGD) yang dilaksanakan secara daring pada 21 Juli, 3 Agustus, dan 11 Agustus 2023, tim menggali kebutuhan perangkat desa sebelum merancang website yang menggabungkan informasi wisata dengan informasi publik. Pengembangannya menggunakan metode waterfall, mulai dari analisis kebutuhan, perancangan, pengembangan, hingga pengujian.
Hasil pengembangan tersebut diwujudkan melalui website visitdesakenteng.id, yang dirancang agar dapat diakses melalui berbagai ukuran layar. Di dalamnya tersedia fitur informasi desa, agenda kegiatan, dokumen layanan publik, informasi UMKM, serta profil perangkat desa yang dapat membantu masyarakat menemukan informasi dan narahubung yang diperlukan. Kehadiran website ini membuka sarana digital bagi Desa Kenteng untuk memperkenalkan usaha lokal dan memudahkan publik mengenali potensi wisata setempat. Laporan akhir juga mencatat bahwa pengembangan masih membutuhkan penyempurnaan, termasuk penambahan informasi yang belum lengkap dan laman laporan penggunaan Dana Desa. Pengujian awal dilakukan oleh tim pengembang sebelum publikasi, sementara uji coba bersama perangkat desa belum sepenuhnya terlaksana karena kelengkapan informasi masih perlu ditingkatkan.
Keberadaan website akan semakin bermakna ketika informasi di dalamnya terus diperbarui dan dimanfaatkan dalam aktivitas sehari-hari. Perangkat desa, pelaku UMKM, dan masyarakat memiliki peran penting untuk menjaga agar informasi wisata, kegiatan, layanan, serta usaha lokal tetap relevan dan mudah dipahami. Kolaborasi antara akademisi dan komunitas melalui skema HIP BINUS Bangun Desa menjadi salah satu upaya untuk mendukung pemanfaatan teknologi sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, website Desa Kenteng diharapkan dapat membantu memperluas pengenalan potensi lokal, mendukung transparansi informasi publik, dan membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi desa secara bertahap.

