Ada momen ketika sebuah pertunjukan seni terasa begitu hidup di depan mata, namun di saat yang sama menyisakan kegelisahan: bagaimana jika suatu hari nanti pertunjukan ini tak lagi bisa disaksikan? Bukan karena tak ada yang mampu menampilkan, tetapi karena tak banyak yang mendokumentasikan. Di banyak desa, seni tradisi hidup dari ingatan kolektif, bukan dari arsip. Dan ketika ingatan mulai memudar, perlahan cerita pun ikut menghilang.

Inilah yang terjadi pada kesenian Jaranan Campur Sari yang dijalankan oleh Kelompok Turonggo Satrio Budoyo. Meski memiliki akar budaya yang kuat dan komunitas yang solid, keterbatasan akses dokumentasi dan publikasi membuat kesenian ini nyaris tak dikenal di luar lingkungannya sendiri. Pelestarian budaya tidak lagi hanya soal menjaga pertunjukan tetap ada, tetapi juga memastikan cerita di baliknya bisa menjangkau generasi yang lebih luas. Di era digital, dokumentasi bukan sekadar pelengkap, melainkan kunci agar budaya tetap relevan dan terus hidup.

Melihat realitas tersebut, tim dosen dari BINUS University melalui program Hibah PISN Kemdiktisaintek 2025 hadir dengan pendekatan yang berbeda. Dipimpin oleh Hindam Basith Rafiqi, S.Sn., M.Sn., bersama Elizabeth Paskahlia Gunawan, S.Kom., M.Cs., dan Bhekti Setyowibowo, S.Ikom., M.Si., mereka tidak hanya membuat film dokumenter tentang komunitas, tetapi juga melibatkan langsung para anggota kelompok dalam proses kreatifnya. Bertempat di lingkungan komunitas Turonggo Satrio Budoyo, para penari, pemusik, hingga sesepuh diajak menyusun alur cerita, belajar dasar sinematografi, hingga menggunakan kamera untuk merekam kisah mereka sendiri. Pendekatan partisipatif ini menjadi cara untuk membangun rasa memiliki sekaligus memperkuat suara komunitas dari dalam.

Dampaknya terasa lebih dari sekadar hadirnya sebuah film dokumenter. Proses belajar bersama ini membuka perspektif baru bagi anggota komunitas tentang bagaimana cerita mereka bisa disampaikan ke khalayak yang lebih luas. Mereka yang sebelumnya tidak familiar dengan dunia visual, kini mulai percaya diri menampilkan identitas budaya mereka melalui media digital. Dokumentasi yang dihasilkan menjadi bukti nyata bahwa Jaranan Campur Sari bukan hanya milik satu desa, tetapi bagian dari kekayaan budaya yang layak diapresiasi lebih luas. Bahkan, keterlibatan aktif komunitas dalam produksi menciptakan rasa bangga baru yang memperkuat keberlanjutan praktik seni mereka.

Kisah ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak bisa hanya mengandalkan upaya dari luar. Kolaborasi antara akademisi dan komunitas membuka ruang bagi proses belajar dua arah—di mana pengetahuan teknologi bertemu dengan kearifan lokal. Community Empowerment BINUS melihat inisiatif seperti ini sebagai langkah penting untuk menjaga keberlanjutan budaya melalui pemberdayaan masyarakat. Karena pada akhirnya, budaya akan tetap hidup bukan hanya karena didokumentasikan, tetapi karena terus diceritakan, dimaknai, dan diwariskan oleh mereka yang menjalaninya.

