Di tengah hiruk pikuk kota, tidak semua orang punya kesempatan untuk duduk di ruang latihan gamelan, apalagi merasakan langsung harmoni bunyi yang mengalun dari berbagai arah. Bagi banyak anak muda, pengalaman ini terasa semakin jauh—bukan karena mereka tidak tertarik, tetapi karena akses yang terbatas dan waktu yang sulit untuk disesuaikan dengan ritme kehidupan urban.

Di sinilah tantangan pelestarian budaya menjadi semakin nyata. Seni tradisi seperti gamelan membutuhkan ruang belajar yang tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga mampu beradaptasi dengan kebiasaan baru masyarakat digital. Tanpa pendekatan yang relevan, generasi muda bisa kehilangan kesempatan untuk mengenal dan merasakan pengalaman belajar yang utuh. Karena itu, inovasi dalam metode pembelajaran menjadi kunci untuk menjaga tradisi tetap hidup dan dekat dengan keseharian.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim dosen BINUS University melalui program Hibah PISN Kemdiktisaintek 2025 berkolaborasi dengan Komunitas Gamelan Tantular di Pejaten Barat, Jakarta Selatan. Dipimpin oleh Ulli Aulia Ruki, S.Sn., M.Sc., bersama Anak Agung Ayu Wulandari, S.Sn., M.Arts., Dr. Ferric Limano, S.Sn., M.Ds., dan Adilla Amelia, S.Sos., MFA, mereka mengembangkan video micro learning gamelan yang dikemas singkat, terstruktur, dan mudah diakses. Tidak hanya itu, eksplorasi teknologi video 360° juga dilakukan untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih imersif, seolah-olah penonton berada langsung di tengah lingkaran gamelan. Komunitas pun dilibatkan aktif melalui pelatihan videografi dan fotografi, agar mampu memproduksi konten secara mandiri ke depannya.

Dampak dari kolaborasi ini mulai terasa dalam keseharian komunitas. Proses belajar menjadi lebih fleksibel dan menarik, memungkinkan anggota maupun masyarakat luas untuk mengakses materi kapan saja. Video 360° menghadirkan pengalaman baru yang lebih hidup, memperkaya cara orang memahami posisi, ritme, dan interaksi dalam permainan gamelan. Jangkauan audiens pun semakin luas, membuka peluang bagi lebih banyak orang untuk mengenal gamelan tanpa batas ruang. Bagi komunitas, ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang kepercayaan diri untuk membawa tradisi ke panggung yang lebih besar.

Kisah ini menunjukkan bahwa tradisi tidak harus tertinggal oleh perkembangan zaman. Dengan kolaborasi yang tepat, teknologi justru bisa menjadi jembatan untuk memperluas makna dan jangkauan budaya. Community Empowerment BINUS melihat inisiatif seperti ini sebagai langkah berkelanjutan untuk memastikan bahwa warisan budaya tidak hanya dipertahankan, tetapi juga terus berkembang mengikuti cara belajar generasi masa kini—tetap berakar, namun terbuka pada kemungkinan baru.

