Di sebuah dusun di Malang, ada sekelompok orang yang berkumpul setiap minggu dengan tujuan yang sederhana namun bermakna: menjaga sesuatu agar tidak hilang. Bukan rapat, bukan pula sekadar pertemuan biasa, melainkan latihan kesenian Bantengan yang hidup dari semangat kolektif warganya. Di tengah lingkaran, dua sosok banteng bergerak dinamis, diiringi tabuhan kendang dan gamelan yang menggema. Bagi mereka, ini bukan sekadar pertunjukan—ini adalah cara merawat warisan yang sudah melekat sejak lama.

Namun, seperti banyak seni tradisi lainnya, Bantengan perlahan menghadapi tantangan zaman. Masuknya budaya modern hingga ke pelosok desa membuat perhatian publik semakin terbagi. Tidak sedikit masyarakat yang bahkan belum mengenal apa itu Bantengan, apalagi memahami nilai filosofis di balik setiap gerakannya. Di sinilah pentingnya pelestarian budaya tidak hanya dalam bentuk praktik, tetapi juga melalui dokumentasi yang mampu menjangkau lebih banyak orang dan menjaga cerita tetap hidup.

Berangkat dari realitas tersebut, tim dosen BINUS University melalui program Hibah PISN Kemdiktisaintek 2025 hadir mendampingi Kelompok Kebo Putro Joyo Anom di Dusun Kunci, Desa Wringinanom, Malang. Dipimpin oleh Yongkie Angkawijaya, S.Sn., M.Ds., bersama Wina Permana Sari, S.T., M.Kom., dan Frederik Masri Gasa, S.IP., M.Si., mereka memilih pendekatan yang melibatkan langsung komunitas, khususnya para pemuda desa. Melalui pelatihan fotografi dan videografi, para peserta diajak untuk belajar mendokumentasikan kesenian mereka sendiri—mulai dari menangkap momen dramatis, ekspresi penari, hingga dinamika gerakan banteng yang penuh energi. Proses ini tidak hanya tentang teknik, tetapi juga tentang membangun kesadaran bahwa cerita mereka layak untuk disimpan dan dibagikan.

Dampaknya mulai terasa seiring berjalannya waktu. Pemuda yang sebelumnya tidak akrab dengan kamera kini mampu menghasilkan dokumentasi visual yang kuat dan bermakna. Kelompok Kebo Putro Joyo Anom pun memiliki portofolio digital yang bisa digunakan sebagai arsip, materi promosi, hingga buku visual yang memperkuat identitas mereka. Lebih dari itu, kesenian Bantengan yang sebelumnya hanya dikenal di lingkup terbatas kini memiliki peluang untuk dikenal lebih luas. Perubahan ini bukan hanya soal visibilitas, tetapi juga tentang rasa memiliki yang semakin kuat terhadap warisan budaya mereka sendiri.

Kisah dari Dusun Kunci ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu membutuhkan intervensi besar, tetapi dimulai dari memberi ruang dan kemampuan kepada komunitas untuk bercerita dengan cara mereka sendiri. Kolaborasi antara akademisi dan masyarakat menjadi jembatan yang membuka akses tersebut. Melalui Community Empowerment BINUS, upaya seperti ini diharapkan terus berlanjut, menghidupkan kembali tradisi dari dalam komunitasnya, sekaligus memastikan bahwa nilai-nilai budaya tetap relevan dan dapat diwariskan ke generasi berikutnya.

