Keindahan kawasan pegunungan dapat menarik wisatawan, tetapi potensi sebuah desa juga bergantung pada kemampuan masyarakat menyambut pengunjung dan memperkenalkan pengalaman yang mereka tawarkan. Di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Kelompok Tani Edelweiss memiliki peluang untuk mengembangkan produk wisata dan memperkenalkan kekhasan daerahnya. Agar potensi tersebut semakin dikenal, masyarakat membutuhkan cara untuk menyampaikan informasi wisata, menawarkan produk lokal, dan membangun komunikasi dengan calon pengunjung.

Pengembangan pariwisata memberi peluang bagi masyarakat untuk memperluas kegiatan ekonomi melalui jasa wisata, produk lokal, dan cendera mata. Namun, peluang itu memerlukan strategi pemasaran yang sesuai dengan kebiasaan calon wisatawan. Pemasaran wisata Desa Wonokitri menjadi penting agar informasi mengenai layanan, produk, dan pengalaman wisata dapat menjangkau masyarakat di luar lingkungan setempat. Pemanfaatan media sosial dan website juga dapat membantu kelompok wisata membangun komunikasi yang lebih terarah dengan calon pengunjung.
Pada 2023, tim dosen BINUS University menjalankan program PKM Peningkatan Kapasitas SDM dalam Optimalisasi Pemasaran Produk Wisata pada Kelompok Tani Edelweiss, Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Program dipimpin Yudhistya Ayu Kusumawati, S.Sn., M.Ds., bersama Faishal Hilmy Maulida, S.Hum., M.Hum., M. Aldiki Febriantono, S.T., M.MT., dan Anindya Widita, B.A., M.A. Tim menggunakan penyuluhan, diskusi, simulasi, dan pelatihan untuk membahas diversifikasi produk wisata, promosi melalui Instagram dan YouTube, pembuatan konten, serta desain cendera mata. Pendampingan juga memperkenalkan pemasaran melalui aplikasi atau website agar kelompok dapat mengembangkan cara promosi sesuai potensi lokalnya.
Laporan akhir mencatat kegiatan pendampingan dan pelatihan pemasaran sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas mitra. Materi yang diberikan mencakup penyusunan desain unggahan Instagram, caption dan hashtag, pembuatan video promosi, serta pengembangan produk cendera mata khas desa wisata. Mitra turut berpartisipasi sejak tahap persiapan hingga evaluasi dan memberikan masukan untuk kemungkinan kegiatan lanjutan. Meski demikian, laporan tidak menyediakan angka terukur mengenai kenaikan kunjungan wisatawan, jumlah transaksi, atau pertumbuhan pendapatan setelah pelatihan.

Pengalaman Kelompok Tani Edelweiss menunjukkan bahwa potensi wisata lokal memerlukan pengelolaan dan komunikasi yang konsisten agar dapat dikenal lebih luas. Kolaborasi antara akademisi dan masyarakat membantu menghubungkan pengetahuan pemasaran dengan kebutuhan kelompok di lapangan. Keberlanjutan upaya ini bergantung pada kemampuan mitra menerapkan keterampilan promosi, menjaga kualitas layanan, dan mengembangkan produk yang sesuai dengan karakter desa. Melalui Community Empowerment BINUS, penguatan kapasitas masyarakat diharapkan dapat mendukung pertumbuhan usaha wisata yang berakar pada potensi lokal.


