Loading
Loading...
Menu BINUS

Ampas Kopi Menjadi Pewangi dan Pupuk Cair, Membuka Peluang Baru bagi Rumah Kopi Palalangon

Setelah kopi diseduh dan dinikmati, ampasnya sering langsung dibuang. Bagi kedai kopi dan kelompok petani, sisa tersebut dapat terus terkumpul dari aktivitas sehari-hari. Di Rumah Kopi Palalangon, Desa Campaka Mulya, Kabupaten Bandung, kopi menjadi bagian dari kegiatan ekonomi masyarakat. Di tengah proses produksi dan konsumsi kopi, ampas yang tersisa menghadirkan peluang untuk dipelajari kembali: apakah bahan tersebut dapat dimanfaatkan menjadi produk yang berguna bagi masyarakat?

Pengelolaan limbah organik menjadi perhatian ketika masyarakat ingin menggunakan sumber daya secara lebih bertanggung jawab. Ampas kopi berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan untuk produk turunan apabila diolah melalui proses yang tepat. Karena itu, pemanfaatan ampas kopi menjadi produk bernilai ekonomi dapat membuka kesempatan bagi petani dan produsen kopi untuk mempelajari keterampilan baru, mengurangi bahan yang terbuang, dan mengeksplorasi peluang usaha. Proses tersebut memerlukan pelatihan teknis, pemahaman mutu produk, dan pengetahuan pemasaran agar hasil olahan dapat dikembangkan secara bertahap.

Melalui Hibah Pengabdian kepada Masyarakat tahun 2024, tim dosen BINUS University menjalankan program Pemanfaatan Ampas Kopi sebagai Bahan Baku Pewangi dan Pupuk Cair dalam Mendukung Zero Waste Product. Tim dipimpin Siswantini, bersama Maryani, Meilani Dhamayanti, Triadi Sumbogo, dan Arif Permana Ratum, serta melibatkan mahasiswa Danendra Achmad. Kegiatan menyasar kelompok petani dan produsen kopi Rumah Kopi Palalangon di Desa Campaka Mulya, Kabupaten Bandung. Tim memperkenalkan pembuatan pewangi cair dan kering serta pupuk cair dari ampas kopi, dilengkapi pendampingan pemasaran digital dan digital storytelling. Program juga menyediakan alat penjemur serbaguna untuk membantu penanganan limbah kopi.

Laporan mencatat pelatihan pengolahan ampas kopi, penyediaan bahan praktik, dan dukungan alat penjemur sebagai bagian dari kegiatan. Evaluasi lanjutan pada November 2024 menunjukkan bahwa peserta masih memerlukan pendampingan tambahan untuk memperkuat keterampilan teknis dan pengetahuan pendukung. Hal ini memperlihatkan bahwa pengembangan produk dari limbah memerlukan proses belajar yang berkelanjutan. Namun, laporan belum menyajikan angka mengenai jumlah ampas kopi yang berhasil diolah, nilai penjualan produk turunan, atau pengurangan sampah setelah program dilaksanakan.

Pengalaman Rumah Kopi Palalangon menunjukkan bahwa peluang pengembangan usaha dapat muncul dari bahan yang selama ini dianggap sebagai sisa. Kolaborasi akademisi dan masyarakat membantu mempertemukan pengetahuan pengolahan dengan kebutuhan petani dan produsen kopi. Agar manfaatnya bertahan, masyarakat perlu terus mengevaluasi kualitas produk, menerapkan proses pengolahan secara konsisten, dan mempelajari cara memasarkan hasilnya. Melalui Community Empowerment BINUS, upaya pemanfaatan sumber daya lokal diharapkan dapat memperkuat keterampilan masyarakat sekaligus mendorong praktik ekonomi yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.

OUR TEAMS ARE HERE TO HELP
Siap berkolaborasi? Hubungi kami untuk konsultasi dan kolaborasi lebih lanjut.
CE Admin
cda@binus.edu
+62 812-9594-2902 / +62 812-9594-2904 (WA Only)