Di era di mana jempol bergerak lebih cepat daripada logika, kita seringkali terjebak dalam pusaran informasi yang tak bertepi. Bayangkan sebuah kenyataan pahit: UNESCO mencatat minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%, yang berarti dari seribu orang, hanya satu yang benar-benar tekun membaca. Ironisnya, di tengah rendahnya literasi tersebut, angka penetrasi internet kita melonjak tajam, menciptakan sebuah fenomena “malas baca tapi cerewet di medsos”. Inilah titik awal mengapa BINUS University merasa perlu hadir secara nyata, menyentuh akar rumput untuk memberikan lentera di tengah kegelapan informasi digital.
Pada tanggal 17 Januari 2026, langkah nyata tersebut diwujudkan melalui kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Darurat Literasi Digital: Menumbuhkan Budaya Saring Sebelum Sharing”. Bertempat di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Rusun Pinus Elok, Cakung, Jakarta Timur, dilaksanakan oleh Mujahidil Mustaqim, M.Pd., bersama tim dari Character Building Development Center BINUS University, menemui para siswa yang menjadi garda depan perubahan. Pertemuan ini bukan sekadar pelatihan formal, melainkan sebuah dialog emosional tentang bagaimana teknologi seharusnya memberdayakan, bukan justru menjerumuskan kita ke dalam jurang hoaks yang memecah belah.
Mengapa kegiatan ini begitu krusial untuk dilakukan sekarang? Data menunjukkan bahwa konsumsi media sosial, khususnya platform seperti TikTok, mengalami peningkatan hingga dua kali lipat, sementara kemampuan mengevaluasi kebenaran informasi masih sangat minim. Kita berada dalam kondisi darurat di mana kelompok masyarakat dengan latar belakang pendidikan tertentu menjadi yang paling rentan terpapar konten negatif. BINUS University memandang bahwa tanpa intervensi edukatif, banjir informasi ini akan terus menjadi ancaman bagi stabilitas sosial dan kemajuan intelektual generasi muda kita.
Dalam pelatihan ini, pendekatan yang digunakan sangat taktis namun tetap manusiawi, yakni melalui pengenalan kerangka 5W+1H dan teknik CRAAP (Currency, Relevance, Authority, Accuracy, Purpose). Para peserta diajak membedah kasus nyata, seperti video hoaks yang sempat viral, untuk belajar mengidentifikasi mana fakta empiris dan mana opini subjektif. Melalui simulasi interaktif, siswa PKBM dilatih untuk tidak langsung menekan tombol ‘share’, melainkan berhenti sejenak, mengevaluasi sumber, dan memastikan bahwa apa yang mereka bagikan adalah kebenaran yang membawa manfaat.
Melihat antusiasme para peserta, tersirat sebuah harapan besar bahwa literasi digital bukan sekadar kemampuan teknis, melainkan sebuah sikap hidup. Keberhasilan kegiatan ini menjadi bukti komitmen BINUS University dalam misi membina dan memberdayakan masyarakat demi membangun bangsa yang lebih cerdas. Namun, perjalanan ini masih panjang dan membutuhkan kontribusi kita semua untuk terus menggaungkan semangat kritis di ruang digital.-