Di balik hiruk pikuk aktivitas akademik di BINUS University, terdapat sebuah misi mulia untuk terus menyalakan api pengetahuan di tengah masyarakat. Melalui semangat pemberdayaan, tim pengabdian masyarakat dari English Department FHUM BINUS University hadir untuk merangkul ibu ibu dari Forum Komunikasi Ustadzah FOKUS. Kegiatan ini bukan sekadar transfer ilmu biasa, melainkan sebuah jembatan untuk membuka cakrawala baru bagi para pemuka agama perempuan ini agar mampu berkomunikasi lebih luas di era global. Kami percaya bahwa pendidikan yang berkualitas adalah hak setiap individu, dan memberdayakan seorang ustadzah berarti turut memberdayakan seluruh komunitas yang mereka bimbing.
Langkah nyata ini terwujud pada 12 Desember 2025 di Kampus Binus Anggrek, di mana suasana kelas berubah menjadi ruang diskusi yang hangat dan penuh semangat. Dilaksanakan oleh Paramita Ayuningtyas, S. Hum., M. Hum. sebagai ketua tim, fokus pembelajaran kali ini adalah materi praktis bertajuk Setting Up Appointments atau seni membuat janji temu. Mengapa topik ini penting? Karena bagi para ustadzah yang memiliki mobilitas tinggi dalam mengayomi umat, kemampuan mengelola waktu dan janji temu secara profesional dalam bahasa Inggris adalah aset berharga yang meningkatkan kepercayaan diri serta efektivitas peran mereka di ruang publik.
Proses pembelajaran dirancang secara mengalir dan interaktif, menjauhkan kesan kaku dari sebuah kelas bahasa. Instruktur memulai dengan penjelasan materi yang telah disederhanakan dari konteks bisnis menjadi percakapan sehari hari agar lebih relevan dengan kebutuhan para peserta. Tak berhenti pada teori, para ustadzah pun terjun langsung dalam sesi role playing atau bermain peran. Dibagi ke dalam kelompok kelompok kecil, tawa dan antusiasme pecah saat mereka mencoba menyusun dialog, saling mengoreksi, dan memberanikan diri untuk berbicara meskipun dengan tingkat kemahiran yang beragam.
Melihat binar mata dan rentetan pertanyaan yang diajukan para peserta, terlihat jelas adanya dampak emosional yang mendalam, sebuah rasa bangga karena mampu menguasai keterampilan baru yang selama ini dianggap sulit. Kehadiran mahasiswa seperti Aisyah Nadia Arviandhita dan Pradipta Khalishah dalam tim juga membuktikan bahwa kolaborasi lintas generasi di BINUS mampu menciptakan harmoni dalam pengabdian. Kegiatan ini menjadi refleksi nyata dari komitmen BINUS terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan SDGs, khususnya dalam mengurangi ketimpangan dan menjamin kesetaraan gender di bidang pendidikan.
Kami menyadari bahwa perjalanan memberdayakan masyarakat adalah sebuah maraton, bukan lari cepat. Kedepannya, penggunaan media interaktif dan simulasi situasi nyata akan terus dikembangkan agar materi yang diberikan semakin tepat sasaran dan berdampak panjang. Kami ingin setiap ustadzah yang keluar dari ruang kelas ini membawa pulang bukan hanya pengetahuan tata bahasa, tetapi juga keberanian untuk menyuarakan pesan pesan kebaikan kepada dunia tanpa hambatan bahasa.-