Dunia bisnis masa depan tidak lagi hanya bicara tentang angka dan profit, melainkan tentang seberapa besar empati yang kita miliki terhadap sesama. Melalui semangat ini, Binus Business School BBS kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak pemimpin masa depan yang humanis melalui program Social Innovation Camp. Program ini bukan sekadar tugas akademik biasa, melainkan sebuah perjalanan transformatif yang mengajak mahasiswa keluar dari zona nyaman ruang kelas untuk bersentuhan langsung dengan denyut nadi kehidupan masyarakat. Di bawah pelaksanaan Darjat Sudarjat, Ario Setra Setiadi, Agustian Budi Prasetya, dan Faranita, para mahasiswa diajak untuk mengasah kepekaan sosial dan kreativitas dalam menjawab tantangan nyata di lapangan.
Langkah kaki para peserta membawa mereka menuju TBM Kampung Pelita Buku yang berlokasi di Kelurahan Rangkapanjaya, Depok. Di sana, mereka tidak datang sebagai penolong yang menggurui, melainkan sebagai pembelajar yang mencoba memahami akar permasalahan melalui proses observasi dan empati yang mendalam. Dengan berbincang bersama ketua RT, sesepuh kampung, hingga anak anak pengunjung taman bacaan, mahasiswa mulai merasakan dinamika perjuangan sebuah komunitas dalam menjaga literasi di tengah keterbatasan. Momen momen emosional ini menjadi landasan penting bagi mereka untuk merumuskan solusi yang benar benar relevan dan berkelanjutan bagi warga sekitar.
Keunikan dari program ini terletak pada integrasi metode Design Thinking yang diterapkan langsung untuk membantu NGO atau komunitas. Mahasiswa menemukan bahwa meskipun TBM Kampung Pelita Buku memiliki dukungan luar biasa dari warga melalui hibah lokasi dan bantuan operasional, tantangan dalam menarik minat baca anak anak di era digital tetap menjadi prioritas. Berdasarkan temuan tersebut, mereka merumuskan inovasi berupa program Reading and Storytelling Corner. Solusi ini tidak hanya menawarkan buku interaktif dan digital, tetapi juga menghidupkan suasana belajar melalui kelas kreatif seperti menulis cerita dan pembuatan komik yang mampu memicu imajinasi anak anak.
Setiap ide yang lahir kemudian diuji dalam tahap presentasi di hadapan para juri untuk dipastikan kelayakan implementasinya. Namun lebih dari sekadar kompetisi untuk meraih nilai, kegiatan ini menjadi wadah pembelajaran yang menyatukan nilai nilai inovasi dan kewirausahaan sosial. Kita dapat melihat bagaimana kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, dan masyarakat mampu menciptakan sinergi positif yang memberdayakan. Keberhasilan kegiatan ini membuktikan bahwa ketika empati bertemu dengan inovasi, solusi yang dihasilkan tidak hanya memecahkan masalah teknis, tetapi juga memberikan harapan baru bagi masa depan generasi muda di komunitas tersebut.
Pengabdian masyarakat adalah tentang membangun jembatan antara pengetahuan dan kebutuhan nyata. Melalui Social Innovation Camp, BINUS University terus berupaya membekali mahasiswanya dengan karakter yang kuat agar mampu memberikan kontribusi nyata bagi bangsa. Kisah di Kampung Pelita Buku barulah satu dari sekian banyak jejak kebaikan yang ingin kita tanam bersama. Mari kita terus mendukung inisiatif pemberdayaan ini untuk menciptakan dampak sosial yang lebih luas dan berkelanjutan.-