Dunia digital hari ini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan rumah kedua tempat para remaja tumbuh dan mencari jati diri. Namun tanpa kompas moral yang tepat, luasnya samudera informasi ini sering kali menjebak mereka dalam pusaran dampak negatif, mulai dari cyberbullying hingga hilangnya privasi. Menyadari urgensi tersebut, tim pengabdian masyarakat dari Fakultas Psikologi Universitas Bina Nusantara yang dilaksanakan oleh Dra. Lisa Ratriana Chairiyati, M.Si., hadir menyapa siswa siswi SMAS Nasional 1 Jakarta Timur. Melalui tajuk Digital Ethics Menjadi Cerdas dan Berkarakter di Dunia Digital, kegiatan ini bukan sekadar seminar formal, melainkan sebuah misi untuk menanamkan benih tanggung jawab di hati para penggerak masa depan.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 9 Desember 2025 ini menjadi ruang dialog hangat yang menjembatani teori psikologi dengan realita kehidupan Gen Z. Bertempat di lingkungan SMAS Nasional 1, suasana kelas berubah menjadi interaktif saat para dosen dan mahasiswa BINUS membedah prinsip Think Before Posting. Ada binar kesadaran di mata para siswa saat mereka memahami bahwa jejak digital adalah cerminan karakter mereka selamanya. Kami percaya bahwa edukasi terbaik tidak hanya menyasar logika, tetapi juga menyentuh sisi emosional tentang bagaimana teknologi seharusnya digunakan untuk memanusiakan manusia, bukan sebaliknya.
Dra. Lisa Ratriana Chairiyati, M.Si., bersama anggota timnya, Pratiwi Hozeng, M.Psi., Psi, membawa pendekatan yang sangat humanis dalam sesi trial class ini. Mereka tidak memosisikan diri sebagai pengajar yang kaku, melainkan sebagai mentor yang memahami kegelisahan remaja di era media sosial. Dengan landasan pemikiran bahwa kualitas penggunaan media lebih penting daripada durasi pemakaian, para siswa diajak untuk mengembangkan empati digital. Inilah esensi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang diusung BINUS, membawa ilmu pengetahuan keluar dari ruang kelas menuju dampak nyata yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
Keberhasilan kegiatan ini terlihat dari antusiasme luar biasa 63 partisipan yang aktif dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Tak hanya mendapatkan materi, para siswa juga berkesempatan berinteraksi langsung dengan mahasiswa BINUS untuk mengenal dunia perkuliahan dan bidang Psikologi secara lebih mendalam. Melalui modul psikoedukasi yang dihasilkan, BINUS berkomitmen agar pesan mengenai etika digital ini tidak berhenti saat seminar usai, namun menjadi panduan berkelanjutan bagi sekolah dalam membina karakter siswanya di tengah disrupsi teknologi yang kian cepat.
Perjalanan ini adalah bukti komitmen BINUS University dalam memberdayakan masyarakat, satu karakter dalam satu waktu. Kita semua memiliki peran untuk memastikan bahwa ruang digital adalah tempat yang aman, inspiratif, dan penuh empati bagi generasi penerus. Mari bersama sama menjadi bagian dari perubahan positif ini dengan menerapkan etika digital dalam setiap unggahan dan interaksi kita.-