Dunia hari ini tidak lagi hanya digerakkan oleh mesin, melainkan oleh limpahan data yang mengalir setiap detiknya. Namun, data mentah tanpa sentuhan analisis hanyalah tumpukan angka yang sunyi. Menyadari hal tersebut, Dr. Anita Rahayu, S.Si., M.Si., seorang pakar Computational Science dari School of Computer Science BINUS University, melaksanakan sebuah misi untuk melangkah. Pada 1 Desember 2025, melalui layar virtual yang menghubungkan hati dan pikiran, sebuah sesi sosialisasi bertajuk Examining Spatial Differences Through Geographically Weighted Multivariate Regression digelar bagi komunitas akademisi di bawah naungan NUNI. Di sinilah teknologi bertemu dengan kemanusiaan, di mana angka angka mulai bercerita tentang perbedaan ruang dan potensi yang ada di dalamnya.
Perjalanan ini bermula dari sebuah kegelisahan akan masih rendahnya literasi mengenai pemanfaatan Data Science yang tepat guna di tengah masyarakat akademik. Dr. Anita memahami bahwa statistik bukan sekadar rumus di atas kertas, melainkan alat untuk memahami realitas sosial yang beragam di setiap wilayah, khususnya melalui pendekatan regresi multivariat spasial. Bertempat di Malang sebagai titik pusat koordinasi kegiatan, 42 mahasiswa berkumpul untuk memahami bagaimana perbedaan geografis memengaruhi berbagai variabel pembangunan manusia. Kegiatan ini bukan sekadar transfer ilmu, melainkan upaya memberikan kacamata baru bagi para peserta agar mampu melihat dunia secara lebih presisi melalui data.
Lebih dari sekadar teori, sesi ini menitikberatkan pada pentingnya data preprocessing, sebuah seni dalam membersihkan dan menyiapkan data sebelum ia bisa memberikan makna. Dr. Anita dengan tulus berbagi pengalaman bahwa kegagalan sebuah sistem bisnis atau kebijakan seringkali berakar dari pengolahan data yang tidak matang. Dalam interaksi yang mengalir, para peserta diajak menyelami bagaimana Data Science kini menjadi tulang punggung bagi industri, mulai dari sistem rekomendasi belanja yang memudahkan keseharian kita hingga analisis sentimen untuk mendengar suara konsumen secara lebih manusiawi. Ada sisi emosional ketika para mahasiswa menyadari bahwa keahlian yang mereka pelajari dapat membantu pengusaha kecil untuk bangkit dan tetap relevan di era kompetisi global.
BINUS University selalu percaya bahwa ilmu pengetahuan yang paling berharga adalah yang mampu memberdayakan sesama. Melalui kegiatan pengabdian ini, nilai nilai SDGs, khususnya pada pilar inovasi dan keadilan, diwujudkan secara nyata dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dr. Anita membuktikan bahwa dedikasi seorang dosen tidak berhenti di dalam ruang kelas, tetapi harus berdampak luas hingga ke akar rumput melalui diseminasi riset yang inklusif. Dengan dukungan penuh dari Community Development Academic, kegiatan ini menjadi jembatan antara teori akademis yang kompleks dengan solusi praktis yang dibutuhkan oleh komunitas pendidikan di Indonesia.
Kini, langkah besar telah dimulai, namun perjalanan memberdayakan Indonesia melalui data masih sangat panjang. Setiap baris kode yang kita tulis dan setiap data yang kita olah memiliki potensi untuk menciptakan perubahan positif bagi kehidupan banyak orang. Mari bergabung bersama kami dalam upaya berkelanjutan untuk mencerdaskan bangsa dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Apakah Anda siap menjadi bagian dari transformasi digital yang humanis ini.-