Di banyak komunitas film lokal, proses belajar sering berjalan apa adanya, mengalir dari proyek ke proyek, dari pengalaman ke pengalaman. Semangatnya kuat, ide-idenya segar, tapi sering kali terhenti di tengah jalan karena tidak ada arah belajar yang jelas. Bukan karena kurangnya potensi, melainkan karena keterbatasan akses terhadap sistem pembelajaran yang bisa membantu mereka berkembang secara berkelanjutan.

Di tengah berkembangnya industri kreatif, kebutuhan akan ruang belajar yang terstruktur menjadi semakin penting. Bagi komunitas film, memahami proses produksi secara menyeluruh bukan hanya soal teknis, tetapi juga tentang membangun cara berpikir kreatif yang matang. Tanpa dukungan sistem yang tepat, banyak talenta lokal yang akhirnya sulit berkembang maksimal. Inilah mengapa penguatan komunitas kreatif melalui akses pembelajaran digital menjadi langkah yang semakin relevan.

Menjawab kebutuhan tersebut, tim dosen BINUS University melalui program Hibah DPPM Ditjen Kemdiktisaintek 2025 skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat berkolaborasi dengan Yayasan Gairah Sinema Muda di Banyumas Raya. Dipimpin oleh Dr. Tri Adi Sumbogo, bersama Dr. Muslikhin dan Dr. Yosef Dedy Pradipto, mereka mengembangkan sebuah prototype Learning Management System (LMS) perfilman. Platform ini dirancang sebagai ruang belajar digital yang tetap selaras dengan pola belajar komunitas—fleksibel, kolaboratif, namun lebih terarah. Melalui LMS ini, anggota komunitas dapat mempelajari proses produksi film, memperdalam keterampilan, hingga mengeksplorasi materi secara mandiri tanpa harus meninggalkan dinamika belajar yang sudah terbentuk sebelumnya.

Dampaknya mulai terlihat seiring penggunaan platform ini. Komunitas kini memiliki arah belajar yang lebih jelas, interaksi antar anggota menjadi lebih aktif, dan proses berbagi pengetahuan berlangsung lebih terstruktur. LMS ini tidak hanya menjadi alat belajar, tetapi juga menjadi fondasi untuk membangun ekosistem perfilman lokal yang lebih kuat. Bahkan, inisiatif ini membuka peluang nyata menuju pembentukan Akademi Komunitas Perfilman Banyumas Raya, sebuah langkah yang sebelumnya terasa jauh, kini mulai terlihat sebagai proses yang sedang dibangun bersama.

Kisah ini menunjukkan bahwa komunitas kreatif membutuhkan lebih dari sekadar ruang berkarya, mereka juga membutuhkan sistem yang mendukung pertumbuhan jangka panjang. Kolaborasi antara akademisi dan komunitas menjadi kunci untuk menghadirkan solusi yang relevan dan berkelanjutan. Melalui Community Empowerment BINUS, upaya seperti ini diharapkan terus berkembang, membuka akses belajar yang lebih luas, dan memastikan bahwa potensi kreatif lokal tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh menjadi kekuatan yang berdampak.

