Loading
Loading...
Menu BINUS

Saat Bunyi Tradisi Menemukan Wajah Baru di Era Digital

Di banyak komunitas seni, ruang belajar sering kali tidak benar-benar hilang, tetapi perlahan terhenti. Bukan karena anak muda kehilangan minat, melainkan karena semakin sedikit ruang yang bisa menampung rasa ingin tahu mereka. Tanpa pendamping, tanpa fasilitas, dan tanpa akses yang memadai, seni tradisi seperti sulim mulai terdengar semakin jauh dari keseharian generasi muda.

Padahal, pelestarian budaya tidak hanya tentang menjaga bentuk lama tetap ada, tetapi juga tentang bagaimana membuatnya relevan dengan cara hidup hari ini. Ketika seni tradisi tidak lagi hadir dalam ruang yang dekat dengan generasi muda, maka jarak itu akan semakin melebar. Di sinilah pentingnya menghadirkan pendekatan baru—yang tidak mengubah nilai dasarnya, tetapi mengemasnya dalam bentuk yang lebih bisa dipahami, dirasakan, dan diakses.

Melalui program Hibah PISN Kemdiktisaintek 2025, tim dosen BINUS University yang dipimpin oleh Citra Fadillah, S.Sn., M.Ds., bersama Dr. Dimas Yudistira Nugraha, S.S., M.M., Evawaty Tanuar, S.Kom., M.Info.Tech, dan Irwansyah, S.Kom., M.Ds., serta mahasiswa DKV BINUS Medan hadir di komunitas Rumah Ceria Medan. Di ruang sederhana yang penuh semangat, mereka mengajak anak-anak, remaja, hingga teman-teman tuli untuk mengenal kembali bunyi sulim melalui pendekatan visual. Lewat workshop, praktik langsung, dan pendampingan, bunyi diolah menjadi tipografi kinetik—sebuah bentuk karya digital yang menerjemahkan suara menjadi visual bergerak. Proses ini membuka cara baru dalam memahami seni, sekaligus memberi ruang bagi peserta untuk berekspresi dengan medium yang lebih dekat dengan dunia digital mereka.

Perlahan, ruang yang sempat redup mulai hidup kembali. Peserta yang awalnya ragu mulai berani bereksperimen, mencoba mengolah ide, dan menampilkan karyanya. Hasilnya tidak berhenti di ruang belajar, tetapi dipamerkan di Pos Bloc Medan sebagai ruang apresiasi yang lebih luas. Selain itu, komunitas juga mulai aktif membagikan proses dan karya mereka melalui media sosial, memperluas jangkauan seni tradisi ke audiens yang lebih beragam. Seni sulim pun bergerak dari sekadar bunyi menjadi pengalaman visual yang bisa dinikmati lintas generasi.

Cerita ini menunjukkan bahwa kreativitas bisa tumbuh ketika diberi ruang, arah, dan kesempatan untuk berkembang. Kolaborasi antara akademisi dan komunitas menjadi jembatan penting dalam menghidupkan kembali seni tradisi dengan cara yang lebih relevan. Melalui Community Empowerment BINUS, upaya seperti ini diharapkan terus berlanjut—membuka lebih banyak ruang belajar, mempertemukan tradisi dengan inovasi, dan memastikan bahwa warisan budaya tidak hanya bertahan, tetapi juga terus berkembang di tengah perubahan zaman.

Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.

OUR TEAMS ARE HERE TO HELP
Siap berkolaborasi? Hubungi kami untuk konsultasi dan kolaborasi lebih lanjut.
CE Admin
cda@binus.edu
+62 812-9594-2902 / +62 812-9594-2904 (WA Only)