Loading
Loading...
Menu BINUS

Literasi Digital untuk Hadapi Ancaman Deepfake Berbasis AI

Pernahkah merasa ragu saat melihat sebuah video atau mendengar rekaman suara yang tampak begitu meyakinkan? Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), teknologi kini mampu meniru wajah, suara, hingga ekspresi seseorang dengan tingkat kemiripan yang sangat tinggi. Kemudahan tersebut memang membuka banyak peluang inovasi, tetapi juga menghadirkan tantangan baru ketika konten hasil manipulasi digital atau deepfake semakin sulit dibedakan dari kenyataan. Kondisi ini membuat kemampuan masyarakat untuk menyaring informasi menjadi semakin penting.

Ancaman deepfake tidak hanya berkaitan dengan penyebaran informasi palsu, tetapi juga dapat memengaruhi rasa percaya, memicu penipuan, merusak reputasi seseorang, hingga memperbesar risiko disinformasi di ruang digital. Tanpa literasi digital yang memadai, masyarakat berpotensi mengambil keputusan berdasarkan informasi yang telah dimanipulasi. Karena itu, membangun kesadaran tentang cara mengenali dan menyikapi konten berbasis AI menjadi salah satu kebutuhan mendesak agar masyarakat lebih siap menghadapi perubahan teknologi yang terus berkembang.

Upaya tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam 13th Seminar Nasional ADPI Mengabdi untuk Negeri (SNAMUN) yang diselenggarakan secara daring pada 30–31 Mei 2026. Dalam forum tersebut, Guru Besar Psikologi BINUS University, Prof. Dr. Juneman Abraham, S.Psi., M.Si., hadir sebagai keynote speaker bersama sejumlah dosen BINUS University yang berpartisipasi sebagai presenter. Melalui pendekatan berbasis riset, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat, Prof. Juneman memperkenalkan strategi mitigasi psikologis melalui program P3K Digital. Program ini mencakup edukasi “Tunda 3 Menit” dan Password Keluarga untuk komunitas masyarakat, serta Gerakan Sahabat Digital yang membekali pelajar dan pendidik dengan kemampuan mengenali, memverifikasi, dan merespons konten hasil manipulasi AI secara lebih bijak.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa membangun ketahanan digital tidak selalu dimulai dari teknologi yang rumit, melainkan dari perubahan cara berpikir dan kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi informasi. Melalui edukasi yang mudah dipahami dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, masyarakat didorong untuk lebih kritis sebelum mempercayai atau menyebarkan sebuah konten. Upaya ini diharapkan mampu memperkuat budaya verifikasi informasi, mengurangi risiko penyebaran hoaks berbasis AI, serta menciptakan lingkungan digital yang lebih aman bagi berbagai kelompok masyarakat.

Perkembangan teknologi akan terus menghadirkan tantangan baru, tetapi kemampuan manusia untuk belajar dan beradaptasi selalu menjadi fondasi utama dalam menjaga kepercayaan di ruang digital. Kolaborasi antara akademisi, pendidik, komunitas, dan masyarakat menjadi langkah penting untuk memperkuat literasi digital yang berkelanjutan. Melalui Community Empowerment BINUS, berbagai inisiatif pengabdian kepada masyarakat terus didorong agar hasil riset dapat diterjemahkan menjadi solusi yang relevan, membantu masyarakat menghadapi perubahan zaman dengan lebih percaya diri, kritis, dan bertanggung jawab.

Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.

OUR TEAMS ARE HERE TO HELP
Siap berkolaborasi? Hubungi kami untuk konsultasi dan kolaborasi lebih lanjut.
CE Admin
cda@binus.edu
+62 812-9594-2902 / +62 812-9594-2904 (WA Only)