Loading
Loading...
Menu BINUS

Digitalisasi Pendataan Biji Kopi Bantu Perkuat Transparansi Petani Gunung Puntang

Di balik secangkir kopi dengan aroma khas Gunung Puntang, ada perjalanan panjang para petani yang merawat tanaman hingga masa panen tiba. Bagi mereka, hasil panen menjadi sumber penghasilan yang penting untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, kebutuhan hidup tetap berjalan ketika musim panen belum datang. Dalam kondisi tersebut, sebagian petani meminjam uang kepada pengepul biji kopi dan melunasinya menggunakan hasil panen berikutnya. Proses ini membutuhkan pencatatan yang jelas agar petani dan pengelola komunitas sama-sama memahami jumlah biji kopi yang diserahkan, nilai transaksi, serta sisa pinjaman yang perlu dibayar.

Ketika pencatatan masih mengandalkan buku besar dan bukti transaksi manual, kesalahan hitung atau hilangnya catatan dapat memicu kesalahpahaman. Laporan akhir pengabdian kepada masyarakat mencatat bahwa selisih dan kesalahpahaman terjadi pada hampir 70% transaksi penerimaan biji kopi maupun pembayaran pinjaman. Situasi ini dapat menyulitkan petani dalam memastikan jumlah kewajiban mereka sekaligus membuat pengelola komunitas kesulitan memantau persediaan. Karena itu, digitalisasi pendataan biji kopi dan peminjaman dana menjadi langkah penting untuk membangun proses transaksi yang lebih tertata, transparan, dan mudah ditelusuri oleh seluruh pihak.

Melalui program Hibah Pengabdian kepada Masyarakat BINUS Tahun 2025 di bidang penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (Computer Science), tim dosen Universitas Bina Nusantara mengembangkan aplikasi berbasis web bagi komunitas Intina Coffee Gunung Puntang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Program yang diketuai oleh Elizabeth Paskahlia Gunawan, S.Kom., M.Cs., bersama anggota Dr. Ir. Yulyani Arifin, S.Kom., M.M., IPP; Dr. Ir. Ilvico Sonata, S.T., M.M., MT., MBA.; dan Tangkas Udiono, S.Kom., MMSI., turut melibatkan mahasiswa Gladys Lionardi. Pengembangan sistem dilakukan dengan menggali kebutuhan petani dan pengelola melalui diskusi serta wawancara, kemudian merancang antarmuka, membangun basis data, menguji prototipe, dan mengevaluasi kemudahan penggunaannya. Melalui aplikasi tersebut, pengelola dapat mencatat penerimaan dan penjualan biji kopi, memantau stok, serta mengelola transaksi pinjaman. Anggota petani juga dapat mengakses informasi mengenai transaksi dan laporan penjualan mereka, sehingga catatan yang sebelumnya tersebar di buku dapat dikelola melalui satu sistem digital.

Hasil kegiatan ini berupa aplikasi pendataan biji kopi dan peminjaman dana yang dirancang untuk membantu komunitas mengelola transaksi secara lebih teratur. Sistem tersebut juga telah didaftarkan untuk memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI), sementara video produk riset dan video storytelling kegiatan telah diselesaikan serta dipublikasikan melalui media sosial dengan tagar #binusempowerment. Laporan akhir turut mencatat bahwa aplikasi ini menjadi materi pengayaan untuk mata kuliah Software Engineering, menghubungkan penerapan ilmu pengembangan perangkat lunak dengan kebutuhan masyarakat. Dalam penerapannya, tim menghadapi kendala berupa lambatnya respons mitra karena kesibukan. Meski begitu, pengembangan sistem tetap diarahkan pada kebutuhan pengguna agar informasi transaksi dan persediaan lebih mudah dipahami serta dimanfaatkan dalam kegiatan sehari-hari.

Keberlanjutan digitalisasi ini bergantung pada kemampuan komunitas untuk menggunakan dan menjaga sistem dalam jangka panjang. Ketika petani dapat memeriksa catatan transaksi dengan lebih jelas dan pengelola memiliki gambaran persediaan yang lebih akurat, komunikasi di antara keduanya memiliki landasan yang lebih kuat. Kolaborasi akademisi dan komunitas melalui Community Empowerment BINUS menunjukkan bagaimana teknologi dapat diarahkan untuk menjawab persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Sejalan dengan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, langkah ini membuka peluang bagi pengelolaan komunitas kopi yang lebih tertata serta menjadi model yang berpotensi dikembangkan oleh komunitas kopi lain di Gunung Puntang. Pada akhirnya, penguatan usaha kopi juga berarti mendukung kepercayaan, kemandirian, dan keberlanjutan kehidupan para petani di balik setiap hasil panen.

Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.

OUR TEAMS ARE HERE TO HELP
Siap berkolaborasi? Hubungi kami untuk konsultasi dan kolaborasi lebih lanjut.
CE Admin
cda@binus.edu
+62 812-9594-2902 / +62 812-9594-2904 (WA Only)