Di sebuah desa, potensi wisata sering tumbuh dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Hamparan perkebunan, kegiatan pertanian, peternakan sapi perah, air terjun, hingga tradisi yang diwariskan turun-temurun menyimpan pengalaman menarik bagi pengunjung. Desa Bendosari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, memiliki beragam kekayaan tersebut. Namun, agar potensi itu semakin dikenal, masyarakat membutuhkan cara untuk memperkenalkan karakter desanya dengan identitas yang mudah dikenali dan diingat.


Bagi desa wisata yang sedang berkembang, daya tarik alam dan budaya perlu didukung oleh cara berkomunikasi yang tepat. Tanpa identitas visual yang konsisten, calon pengunjung dapat kesulitan mengenali ciri khas sebuah destinasi di antara banyak pilihan wisata lainnya. Karena itu, destination branding atau strategi membangun citra destinasi menjadi salah satu langkah penting untuk memperkenalkan Desa Wisata Bendosari kepada masyarakat yang lebih luas. Identitas visual dapat membantu menyatukan beragam potensi desa dalam satu tampilan yang merepresentasikan karakter lokal sekaligus mendukung kegiatan promosi.

Melalui program Hibah Pengabdian kepada Masyarakat tahun 2024 dengan skema Teknologi Tepat Guna, tim Desain Komunikasi Visual BINUS University mendampingi pengembangan identitas visual Desa Wisata Bendosari. Kegiatan yang berlangsung dari Mei hingga Desember 2024 ini dipimpin oleh Safitri Aprillia Putri, S.Sn., M.Ds., bersama Cahyaning Umul Chasanah Nursyifani, S.T., M.Ds.; Priska Arindya Purnama, S.Si., M.Si.; Dian Pratiwi Willyarti, S.Ds., M.Ds.; serta mahasiswa Rizky Ageng Syaputra. Tim melakukan observasi, wawancara, pengumpulan data, diskusi, dan pembekalan mengenai pentingnya identitas visual serta penerapannya dalam promosi destinasi. Pendekatan ini membantu tim memahami karakter dan kebutuhan desa sebelum merancang identitas yang sesuai.

Hasil kegiatan berupa rancangan logo Desa Wisata Bendosari beserta penerapannya pada sejumlah media promosi dan merchandise. Identitas tersebut dikembangkan agar dapat digunakan secara konsisten melalui banner, brosur, flyer, poster, serta berbagai produk seperti tote bag, pouch, gantungan kunci, stiker, pin, kaus, dan topi. Pada 30 September 2024, tim memaparkan hasil perancangan sekaligus menyerahkan produk kepada Kepala Desa Bendosari dan jajaran aparat desa di kantor desa. Laporan akhir juga mencatat pencetakan 50 pouch, 40 gantungan kunci, 20 tote bag, dan 200 stiker sebagai bagian dari media pendukung. Luaran ini menyediakan perangkat visual yang dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan potensi wisata desa, meskipun laporan belum menyajikan data terukur mengenai peningkatan jumlah kunjungan wisatawan atau pendapatan masyarakat setelah identitas tersebut diterapkan.
Identitas sebuah desa akan semakin bermakna ketika masyarakat dan pengelolanya menggunakannya secara konsisten dalam memperkenalkan potensi lokal. Logo dan media promosi yang telah disiapkan dapat menjadi langkah awal untuk membangun pengenalan terhadap Desa Wisata Bendosari, sementara pengembangan paket wisata, peningkatan kapasitas pengelola, dan promosi berkelanjutan dapat mendukung langkah berikutnya. Kolaborasi antara akademisi dan masyarakat membuka ruang untuk mengolah potensi lokal menjadi sesuatu yang lebih mudah dikenali dan dipahami. Melalui semangat Community Empowerment BINUS, pendampingan seperti ini diharapkan dapat terus mendukung desa dalam mengembangkan daya tariknya serta memperkuat peluang kemandirian ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

