Bagi pelaku usaha kuliner, menjaga pelanggan tetap tertarik membutuhkan perhatian setiap hari. Rasa makanan perlu konsisten, menu harus mampu mengikuti selera konsumen, dan promosi perlu menjangkau orang yang tepat. Di tengah kesibukan menyiapkan pesanan dan mengelola operasional, pemilik usaha juga perlu memikirkan cara agar bisnisnya terus berkembang dan mampu bertahan di tengah persaingan.
Persaingan bisnis makanan daring membuat pelaku usaha perlu terus mengevaluasi kualitas produk dan cara mereka menjangkau pelanggan. Cencan Food, usaha kuliner yang menawarkan hidangan ayam, camilan, dan minuman kekinian, menghadapi tantangan dalam menjaga konsistensi rasa, mengembangkan pemasaran, serta mempertahankan daya saing. Inovasi strategi bisnis kuliner menjadi penting agar usaha dapat mengenali kekuatan yang dimiliki, memahami kebutuhan pasar, dan menyusun langkah pengembangan yang lebih terarah.

Pada 2024, tim pengabdian kepada masyarakat BINUS Online dari Universitas Bina Nusantara menjalankan program “Inovasi Strategis untuk Meningkatkan Daya Saing Cencan Food” di Tangerang. Tim ini dipimpin oleh Dr. Rini Kurnia Sari, S.E., M.E., dengan Dr. Ir. Teguh Sriwidadi, M.M. dan Aisyah Qanita sebagai anggota. Melalui analisis situasi dan SWOT—yang memetakan kekuatan, kelemahan, peluang, serta ancaman—tim mengidentifikasi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan Cencan Food. Rekomendasi yang dirumuskan mencakup penguatan pengendalian kualitas, diversifikasi menu, serta pemanfaatan pemasaran digital melalui media sosial, platform pengantaran makanan, dan kanal pemasaran lainnya.
Dari proses analisis tersebut, Cencan Food memperoleh pemetaan masalah dan rekomendasi strategi yang dapat menjadi bahan pertimbangan untuk pengembangan usaha. Pengendalian kualitas dapat membantu menjaga konsistensi produk, sementara inovasi menu berpeluang membuat penawaran lebih relevan dengan selera pelanggan. Pemasaran digital juga dapat membuka kesempatan untuk memperluas jangkauan dan membangun hubungan dengan konsumen. Namun, laporan akhir mencatat adanya kendala berupa keterbatasan waktu mitra, rendahnya pemanfaatan dana program, dan tindak lanjut yang belum optimal karena aktivitas operasional menjadi prioritas. Anggaran yang disetujui sebesar Rp3.500.000, sementara realisasi yang tercatat sebesar Rp340.205 atau sekitar 9,7%. Laporan tersebut belum menyajikan data terukur mengenai peningkatan penjualan, pertumbuhan pelanggan, atau perubahan daya saing setelah rekomendasi diterapkan.


Pengembangan usaha kecil membutuhkan strategi yang sesuai dengan kondisi nyata pelaku usaha sekaligus komitmen untuk menjalankannya secara berkelanjutan. Kolaborasi antara akademisi dan Cencan Food menyediakan ruang untuk mengenali tantangan bisnis dan merumuskan alternatif penyelesaian berdasarkan analisis yang lebih terstruktur. Ke depan, penerapan rekomendasi secara bertahap, evaluasi kualitas produk, dan pemanfaatan pemasaran digital dapat menjadi langkah yang dipertimbangkan untuk memperkuat usaha. Melalui Community Empowerment BINUS, kegiatan pengabdian seperti ini diharapkan dapat mendukung pelaku usaha dalam membangun kapasitas dan mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.

