Sebuah tas atau keranjang dari eceng gondok menyimpan cerita tentang bahan alam, keterampilan tangan, dan waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk berkualitas. Di CV Sahabat Alam, Tangerang, usaha Ratu Eceng mengolah tanaman yang sering dianggap mengganggu perairan menjadi beragam kerajinan bernilai ekonomi. Tantangan bagi perajin muncul ketika produk yang telah dibuat perlu diperkenalkan kepada orang-orang yang belum pernah melihatnya. Kualitas kerajinan perlu terlihat melalui foto, cerita, dan informasi yang mampu menarik perhatian calon pembeli.

Dalam pemasaran modern, produk yang baik tetap membutuhkan cara komunikasi yang sesuai dengan kebiasaan konsumen. Media sosial dapat membantu pelaku UMKM menunjukkan detail produk, proses pembuatan, dan karakter bahan yang digunakan. Pemasaran digital UMKM kerajinan eceng gondok menjadi penting untuk memperluas jangkauan promosi dan memperkuat identitas merek. Bagi Ratu Eceng, pengembangan konten memberi kesempatan untuk menyampaikan nilai produk secara lebih konsisten dan membuka jalur komunikasi dengan calon pembeli.

Pada 2023, tim dosen BINUS Business School menjalankan program Pengembangan Konten Promosi Digital Produk Ratu Eceng melalui Hibah Internal Pengabdian kepada Masyarakat (HIP). Program dipimpin Prof. Dr. Lim Sanny, S.T., M.M., bersama Dr. Pantri Heriyati, S.E., M.Comm., dan Dr. Dahlia Darmayanti, MIM. Kegiatan berlangsung bersama CV Sahabat Alam di Kunciran Jaya, Kecamatan Pinang, Tangerang. Tim menggunakan pendekatan manajemen dan bisnis untuk mendukung kebutuhan promosi mitra melalui pengembangan konten digital dan pemanfaatan media sosial, sehingga produk kerajinan dapat diperkenalkan dengan lebih terarah.
Laporan mencatat pengembangan konten promosi digital sebagai luaran utama kegiatan. Materi tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung mitra dalam menampilkan produk dan memperkuat komunikasi pemasaran. Dengan konten yang disusun secara lebih terarah, pelaku usaha memiliki bahan untuk memperkenalkan produk kerajinan kepada calon konsumen melalui kanal digital. Meski demikian, laporan tidak menyediakan data terukur mengenai peningkatan jangkauan media sosial, jumlah pembeli baru, atau kenaikan penjualan yang secara langsung dihasilkan oleh program.

Perjalanan Ratu Eceng menunjukkan bahwa keterampilan menghasilkan kerajinan dapat diperkuat dengan kemampuan menceritakan nilai produk kepada pasar. Kolaborasi akademisi dan pelaku usaha membantu menghubungkan pengetahuan pemasaran dengan kebutuhan promosi sehari-hari. Keberlanjutan manfaatnya memerlukan pembaruan konten, konsistensi komunikasi, serta evaluasi respons calon pembeli. Melalui Community Empowerment BINUS, pendampingan digital diharapkan dapat mendukung UMKM mengembangkan cara pemasaran yang sesuai dengan karakter produknya dan kebutuhan pasar.

