Bagi pelaku usaha kecil di wilayah kepulauan, kesempatan untuk belajar dan mengembangkan usaha sering kali bergantung pada ketersediaan informasi, akses teknologi, serta pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Jarak antarpulau dan keterbatasan akses terhadap sumber pembelajaran dapat menjadi tantangan tersendiri ketika masyarakat ingin memperoleh pengetahuan baru. Di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, pengembangan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi digital menjadi salah satu peluang untuk memperluas akses belajar sekaligus mendukung kegiatan usaha masyarakat.
Perkembangan teknologi informasi membuka kesempatan bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) untuk memperoleh pengetahuan tanpa selalu bergantung pada pertemuan tatap muka. Melalui pembelajaran jarak jauh, materi dapat diakses dengan lebih fleksibel, sedangkan pengetahuan yang telah dimiliki masyarakat dapat dihimpun dan dibagikan kembali. Tantangannya terletak pada kemampuan menggunakan teknologi tersebut secara tepat. Masyarakat memerlukan fasilitator yang mampu membantu proses belajar, menyampaikan materi, serta menghubungkan kebutuhan pelaku usaha dengan sumber informasi yang tersedia.
Kebutuhan tersebut menjadi landasan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk Pemberdayaan Kompetensi Fasilitator pada Proses Pembelajaran Jarak Jauh untuk UKM di Pulau Pramuka Wilayah Kepulauan Seribu DKI-Jakarta. Program yang direncanakan pada 2023 ini melibatkan tim dosen BINUS University dengan Dr. Wahyu Sardjono, S.Si., M.M. sebagai ketua, bersama Maryani, S.Kom., MMSI; Jajat Sudrajat, S.E., M.M.; dan Erma Lusia sebagai anggota. Kegiatan diarahkan untuk membantu pengembangan kemampuan fasilitator melalui pendekatan pengelolaan pengetahuan dan pembelajaran berbasis teknologi. Salah satu solusi yang dirancang adalah portal e-learning menggunakan Moodle Learning Management System (LMS), yang dapat menjadi sarana untuk mengelola materi pembelajaran, berbagi pengetahuan, dan mendukung komunikasi antara fasilitator, peserta, serta pihak terkait.
Rancangan program ini menempatkan pengembangan portal e-learning dan implementasi e-UMKM di lokasi mitra sebagai luaran utama yang diharapkan. Melalui sarana tersebut, materi pembelajaran dan pengetahuan terkait kegiatan UKM berpotensi dihimpun secara lebih terstruktur sehingga lebih mudah digunakan kembali. Fasilitator juga diharapkan memiliki sarana untuk mendukung proses belajar yang lebih fleksibel dan berkelanjutan. Meski demikian, besaran peningkatan kompetensi, jumlah peserta yang terlibat, serta tingkat pemanfaatan sistem setelah pelaksanaan perlu merujuk pada data evaluasi dalam laporan akhir agar manfaat yang disampaikan benar-benar mencerminkan kondisi masyarakat.
Upaya memperluas akses pembelajaran digital membutuhkan kerja sama yang terus berjalan antara akademisi dan masyarakat. Teknologi dapat menjadi sarana pendukung, sementara pengetahuan lokal, pengalaman pelaku usaha, dan kemampuan fasilitator tetap menjadi bagian penting dalam proses pemberdayaan. Melalui Community Empowerment BINUS, kolaborasi seperti ini diharapkan dapat mendorong masyarakat mengembangkan kemampuan secara bertahap, memanfaatkan pengetahuan yang tersedia, dan membuka peluang penguatan usaha dalam jangka panjang. Keberlanjutan program akan semakin berarti ketika sistem yang dikembangkan dapat digunakan, dirawat, dan disesuaikan dengan kebutuhan nyata masyarakat.

