Bagi para pedagang bunga, setiap tangkai memiliki cerita tentang usaha, ketekunan, dan harapan untuk mendapatkan pelanggan. Di Pasar Bunga Rawa Belong, Jakarta Barat, aktivitas jual beli bunga menjadi bagian dari kehidupan para pelaku usaha yang melayani kebutuhan dekorasi, acara pernikahan, perhotelan, hingga berbagai perayaan. Di tengah persaingan usaha yang terus berkembang, para pedagang perlu menemukan cara agar produk mereka semakin dikenal dan pasar tetap menarik bagi pengunjung.
Potensi usaha bunga potong di perkotaan cukup besar, tetapi peluang tersebut perlu didukung dengan strategi pemasaran yang tepat. Pedagang juga menghadapi tantangan dalam membangun hubungan dengan pelanggan, mempromosikan produk, serta menjangkau konsumen di luar pembeli yang datang langsung ke pasar. Karena itu, pemberdayaan UMKM Pasar Bunga Rawa Belong menjadi langkah penting untuk membantu para pedagang mengembangkan kemampuan usaha, memanfaatkan media digital, serta memperkuat daya tarik pasar sebagai bagian dari potensi wisata Jakarta.


Pada 2023, melalui program hibah Pengabdian kepada Masyarakat, tim dosen Bina Nusantara University menjalankan kegiatan bertajuk Pengembangan Pasar Bunga Rawa Belong sebagai Destinasi Tujuan Wisata DKI Jakarta. Program ini diketuai Dr. Pantri Heriyati dengan melibatkan tim multidisiplin yang memiliki keahlian di bidang pemasaran, manajemen, keuangan, hospitality, sistem informasi, bahasa, dan desain. Pendampingan dilakukan melalui sejumlah kegiatan, termasuk pelatihan layanan pelanggan prima, Rawa Belong Go Digital, pengelolaan keuangan, hubungan dengan pemasok, serta pengembangan materi promosi. Tim juga mendukung penataan visual pasar dan memperkenalkan produk pedagang melalui pameran bunga di Square Fest pada 17–19 November 2023. Rangkaian kegiatan tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan usaha pedagang sekaligus memperluas daya tarik Pasar Bunga Rawa Belong.


Berbagai kegiatan menghasilkan dukungan yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan usaha. Pedagang memperoleh pendampingan mengenai layanan pelanggan, promosi digital, pengelolaan keuangan, dan hubungan bisnis dengan pemasok. Tim juga menyiapkan desain serta mencetak brosur promosi dalam tiga bahasa—Indonesia, Inggris, dan Mandarin—untuk membantu memperkenalkan pasar kepada calon pelanggan yang lebih luas. Pada Square Fest, sebanyak 15 kelompok dengan total 45 peserta mengikuti lomba merangkai bunga, sementara pedagang Pasar Bunga Rawa Belong mendapatkan kesempatan untuk membuka stan gratis. Pengecatan pagar pasar yang melibatkan sekitar 150 mahasiswa juga menjadi bagian dari upaya memperbaiki tampilan fisik kawasan. Capaian tersebut menunjukkan bentuk dukungan nyata bagi promosi dan daya tarik pasar, meskipun laporan belum menyediakan data terukur mengenai kenaikan penjualan atau pertumbuhan pelanggan setelah program berlangsung.
Keberlanjutan usaha para pedagang membutuhkan kesempatan untuk terus belajar, mencoba strategi baru, dan membangun hubungan dengan mitra. Kolaborasi antara akademisi, pemerintah, pengelola pasar, mahasiswa, dan pelaku UMKM dapat membuka ruang bagi pengembangan tersebut. Materi promosi yang lebih beragam, pemanfaatan media digital, layanan pelanggan yang baik, serta lingkungan pasar yang lebih menarik dapat menjadi modal untuk memperkuat usaha secara bertahap. Melalui semangat Community Empowerment BINUS, pemberdayaan masyarakat diarahkan untuk mendukung kemampuan pelaku usaha agar semakin mandiri dan mampu mengembangkan potensi lokal. Dengan dukungan yang berkelanjutan, Pasar Bunga Rawa Belong berpeluang semakin dikenal sebagai pusat perdagangan bunga sekaligus destinasi yang memiliki nilai ekonomi dan daya tarik bagi masyarakat.

