Loading
Loading...
Menu BINUS

Dari Dapur ke Pasar yang Lebih Luas: UMKM Tahu Bakso Mama Kila Tingkatkan Kapasitas Produksi

Bagi Susana, yang akrab disapa Mama Kila, usaha tahu bakso tumbuh dari keberanian untuk memulai perjalanan baru. Setelah beralih profesi pada 2020, ia mengembangkan usaha kuliner yang kini mampu memproduksi sekitar 3.000–5.000 tahu bakso per hari, dengan omzet yang dilaporkan mencapai Rp6,5 juta sehari. Pesanan datang dari pelanggan, tetangga, hingga reseller yang membantu memasarkan produknya. Di balik perkembangan tersebut, ada tantangan yang harus dihadapi setiap hari: menjaga produksi tetap berjalan, memenuhi permintaan pelanggan, dan memastikan setiap produk sampai ke tangan konsumen dalam kondisi baik.

Ketika permintaan meningkat, kemampuan usaha untuk memenuhi pesanan sangat bergantung pada peralatan, tenaga kerja, dan alur produksi yang tersedia. Sebelum pendampingan dilakukan, proses produksi Tahu Bakso Mama Kila masih menghadapi keterbatasan peralatan sederhana, sementara pemasaran banyak mengandalkan jaringan pelanggan, reseller, dan pesan melalui WhatsApp. Kondisi ini menunjukkan pentingnya peningkatan kapasitas produksi UMKM yang berjalan seiring dengan perluasan pasar. Bagi usaha rumahan, peningkatan produksi perlu disertai pengelolaan persediaan, pembagian kerja, dan pengemasan yang lebih teratur agar pertumbuhan usaha dapat dijaga secara berkelanjutan.

Melalui program Hibah Pengabdian kepada Masyarakat BINUS Tahun 2025, tim dosen Universitas Bina Nusantara mendampingi UMKM Tahu Bakso Mama Kila di Perumahan Keroncong Permai, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang. Program ini mengangkat bidang penerapan IPTEKS dalam manajemen operasi dan manajemen pemasaran, dengan fokus pada peningkatan kapasitas produksi serta pangsa pasar. Tim diketuai oleh Dr. Ir. Teguh Sriwidadi, M.M., bersama anggota Dr. Hartiwi Prabowo, S.E., M.M. dan Dr. Dony Saputra, M.M., M.Kom., CPHRM, HRMP, HRBP, serta mahasiswa Aisyah Qanita. Selama lima bulan pelaksanaan, pendampingan dilakukan melalui pemetaan proses produksi, identifikasi hambatan kerja, penambahan peralatan, penyusunan standar operasional prosedur (SOP), serta penguatan strategi pemasaran. Pendekatan ini membantu pemilik usaha melihat proses produksi secara lebih terstruktur sekaligus menyiapkan langkah untuk menjangkau pelanggan melalui saluran distribusi yang lebih beragam.

Salah satu dukungan nyata dalam program ini adalah penyediaan kompor gas dua tungku, freezer berkapasitas sekitar 306 liter, dan mesin sealer otomatis. Peralatan tersebut ditujukan untuk membantu memperlancar proses memasak, menjaga penyimpanan bahan atau produk, serta menghasilkan kemasan yang lebih rapi. Tim juga mendorong pengaturan alur kerja, pencatatan volume produksi, dan pengelolaan persediaan agar kegiatan usaha lebih mudah dipantau. Dari sisi pemasaran, Mama Kila didukung melalui keterlibatan dalam kegiatan bazar UMKM, termasuk Sunday Market bersama komunitas UMKM CUP Bestrari dan Forum UMKM Kota Tangerang. Komunitas CUP Bestrari sendiri disebut memiliki 116 UMKM aktif, sehingga jejaring ini membuka ruang bagi pelaku usaha untuk memperluas perkenalan produk dan membangun relasi dengan pelanggan baru. Laporan akhir menyebut adanya peningkatan kapasitas produksi dan jumlah pelanggan setelah program berjalan, meskipun angka perbandingan sebelum dan sesudah kegiatan tidak dirinci secara spesifik.

Perjalanan Mama Kila memperlihatkan bahwa pertumbuhan usaha kecil membutuhkan perpaduan antara keterampilan, peralatan yang sesuai, pengelolaan yang konsisten, dan akses pasar. Tantangan seperti keterbatasan tenaga kerja, ruang produksi yang sempit, kebutuhan modal kerja, serta perubahan permintaan tetap memerlukan perhatian setelah pendampingan selesai. Karena itu, keberlanjutan program bergantung pada kemampuan pemilik dan pekerja untuk menerapkan kebiasaan kerja yang lebih teratur, mengevaluasi kebutuhan produksi, dan menjaga hubungan dengan pelanggan. Melalui Community Empowerment BINUS, kolaborasi antara akademisi dan pelaku UMKM diharapkan terus membuka kesempatan bagi usaha lokal untuk berkembang sesuai kapasitasnya. Upaya ini sejalan dengan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, melalui pemanfaatan peralatan dan penguatan proses usaha yang mendukung produktivitas. Pada akhirnya, kemajuan UMKM seperti Tahu Bakso Mama Kila turut menjaga kehidupan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.

OUR TEAMS ARE HERE TO HELP
Siap berkolaborasi? Hubungi kami untuk konsultasi dan kolaborasi lebih lanjut.
CE Admin
cda@binus.edu
+62 812-9594-2902 / +62 812-9594-2904 (WA Only)