Loading
Loading...
Menu BINUS

Mengenal Pewarna Alam, Batik Pandan Arum Mengembangkan Peluang Produksi Ramah Lingkungan

Setiap kain batik membawa proses yang panjang, mulai dari pemilihan bahan hingga tahap pewarnaan dan penyelesaian. Bagi perajin, menjaga kualitas hasil menjadi bagian penting dari keberlangsungan usaha. Batik Pandan Arum di Desa Pandanmulyo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, mengembangkan batik khas Malang dengan berbagai teknik, termasuk batik tulis, batik cap, dan ecoprint. Di tengah upaya mempertahankan kualitas produk, penggunaan material yang lebih ramah lingkungan menjadi salah satu ruang pengembangan yang dapat dipelajari oleh pengrajin.

Pilihan bahan dan proses produksi dapat memengaruhi penggunaan sumber daya serta karakter hasil akhir. Bagi usaha batik skala kecil, mencoba material baru juga memerlukan pengetahuan, pendampingan, dan evaluasi agar sesuai dengan kebutuhan produksi. Pewarna alam untuk batik Malang menjadi topik penting karena memberi kesempatan kepada pengrajin untuk mengeksplorasi alternatif material sekaligus memahami tantangan penerapannya. Pendekatan ini perlu memperhatikan kualitas hasil, konsistensi warna, kebutuhan bahan, dan kesesuaian proses dengan kondisi usaha.

Pada 2024, tim dosen BINUS University menjalankan program Hibah Pengabdian kepada Masyarakat dengan skema Teknologi Tepat Guna (TTG), berjudul Teknologi Tepat Guna, Penerapan Pewarna Alam sebagai Alternatif Material Ramah Lingkungan untuk Mendukung Produktivitas Industri Batik Malang. Tim dipimpin Yudhistya Ayu Kusumawati, S.Sn., M.Ds., bersama Dr. Lasmy, S.Kom., M.M., dan Anindya Widita, B.A., M.A. Program melibatkan dua mahasiswa, Seraphine Beatrice Soetedjo dan Christoforus Justine Pranoto. Kegiatan berlangsung pada Maret–November 2024 di Batik Pandan Arum, Desa Pandanmulyo, dengan pendekatan penyuluhan dan pendampingan terkait penerapan pewarna alam serta pengembangan kemasan yang lebih ramah lingkungan.

Laporan mencatat sejumlah luaran, termasuk prototipe, publikasi pengabdian, pengajuan HKI, video dokumentasi, dan materi pengayaan pembelajaran. Catatan anggaran menunjukkan pembelian kain serta paket pewarna alam pada September 2024 dan biaya pencetakan prototipe pada Oktober 2024. Rangkaian kegiatan tersebut memberi dukungan untuk mengeksplorasi material dan mendokumentasikan proses pengembangan. Namun, laporan belum menyediakan data terukur tentang pengurangan limbah, penghematan biaya produksi, atau peningkatan penjualan akibat penggunaan pewarna alam. Efektivitas penerapan material tersebut masih perlu dinilai melalui pengujian dan pemantauan lanjutan.

Pengembangan pewarna alam membuka ruang bagi pengrajin untuk mengeksplorasi cara produksi yang lebih memperhatikan lingkungan. Kolaborasi akademisi, mahasiswa, dan pelaku usaha membantu mempertemukan pengetahuan desain dengan pengalaman langsung di tempat produksi. Keberlanjutan manfaatnya membutuhkan evaluasi mutu, pengujian proses secara konsisten, dan pendampingan sesuai kebutuhan pengrajin. Melalui Community Empowerment BINUS, pengembangan teknologi yang relevan diharapkan dapat mendukung industri batik lokal dalam memperkuat kapasitas produksi dan mengeksplorasi peluang usaha yang lebih berkelanjutan.

Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.

OUR TEAMS ARE HERE TO HELP
Siap berkolaborasi? Hubungi kami untuk konsultasi dan kolaborasi lebih lanjut.
CE Admin
cda@binus.edu
+62 812-9594-2902 / +62 812-9594-2904 (WA Only)