Loading
Loading...
Menu BINUS

Tambak Lebih Cerdas, Petambak Pekalongan Perkuat Budidaya Udang dan Ikan Berkelanjutan

Bagi petambak udang dan ikan, kondisi air dapat menentukan keberhasilan panen yang telah dirawat selama berminggu-minggu. Perubahan suhu, tingkat keasaman (pH), hingga kadar oksigen terlarut bisa memengaruhi kesehatan biota tambak. Ketika perubahan tersebut terlambat diketahui, petambak berisiko menghadapi kematian udang dan ikan serta kerugian biaya operasional. Di tengah tantangan itu, kebutuhan akan cara pemantauan yang lebih praktis dan efisien menjadi semakin penting bagi masyarakat yang menggantungkan penghidupannya pada budidaya perikanan.

Di Desa Wonosari, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan, pemantauan kualitas air sebelumnya masih banyak dilakukan secara manual. Cara ini membuat petambak berpotensi terlambat mengetahui perubahan kondisi air, sementara penggunaan blower konvensional turut menambah kebutuhan energi. Tantangan lainnya muncul dalam keterlibatan perempuan di komunitas petambak, terutama untuk mengolah limbah perikanan menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Karena itu, peningkatan produktivitas petambak membutuhkan pendekatan yang menggabungkan teknologi, penguatan keterampilan, efisiensi operasional, dan peluang ekonomi bagi masyarakat.

Melalui Hibah Internal Pengabdian kepada Masyarakat BINUS Tahun 2025, tim yang dipimpin Roikhanatun Nafi’ah, S.T., M.T., mengembangkan program peningkatan produktivitas petambak udang dan ikan melalui teknologi cerdas dan ramah lingkungan berbasis Artificial Intelligence of Things (AIoT) serta Augmented Reality (AR), yang terintegrasi dengan capacity building dan women empowerment. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Wonosari, Kabupaten Pekalongan, melalui identifikasi kebutuhan bersama mitra, penerapan sistem pemantauan kualitas air, pemasangan aerator mikrobubble, serta pelatihan dan pendampingan. Tim pengabdian melibatkan dosen dan mahasiswa lintas bidang, termasuk Teknik Industri, Computer Science, dan Digital Business. Anggota tim yang tercantum dalam laporan meliputi Dian Martha Nurrul Amanah, Dimas Elang Setyoko, Prayoga Yudha Pamungkas, Rida Zuraida, Dyah Lestari Widaningrum, Vincentius Jessen Phoanata, Tenaya Maula Prabhaswarajnana, Daffa Raihan Putra Anton, Yustinus Wahyu Surya Adityatama, dan Erlambang Purnama. Melalui kolaborasi tersebut, teknologi diperkenalkan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan masyarakat dalam menggunakannya sehari-hari.

Laporan akhir mencatat 29 petambak mengikuti pelatihan secara langsung di Pekalongan, sementara 100 petambak mengikuti pelatihan daring. Dalam program pemberdayaan perempuan, tiga perempuan terlibat secara langsung di Pekalongan dan 27 perempuan mengikuti pelatihan daring. Petambak mendapat pengetahuan mengenai fungsi aerator, pemantauan kualitas air secara langsung, dan pencatatan produksi secara digital. Satu unit mini aerator beserta instalasi dan pendampingannya juga diserahkan kepada mitra. Meski demikian, penerapan teknologi tetap memerlukan proses adaptasi. Keterbatasan jaringan internet, perbedaan tingkat literasi digital, serta kebutuhan pendampingan bagi peserta yang belum terbiasa menggunakan sistem digital menjadi beberapa tantangan selama kegiatan. Tim meresponsnya melalui praktik langsung, modul sederhana, sistem pemantauan hibrida, dan rencana pendampingan oleh mentor lokal. Laporan menyebutkan adanya potensi perbaikan pada pengelolaan tambak, tetapi angka penurunan mortalitas, penghematan energi, dan peningkatan pendapatan perlu dibaca sesuai hasil pengukuran yang tersedia.

Keberlanjutan budidaya perikanan sangat bergantung pada kemampuan masyarakat untuk memahami dan mengelola perubahan di lingkungan mereka sendiri. Teknologi akan lebih bermanfaat ketika petambak mampu mengoperasikannya, membaca informasi yang dihasilkan, dan menjadikannya dasar pengambilan keputusan. Keterlibatan perempuan juga membuka ruang bagi pengembangan kegiatan ekonomi melalui pemanfaatan limbah perikanan. Dengan menggabungkan penerapan teknologi, transfer pengetahuan, penyusunan prosedur operasional, dan penguatan kapasitas komunitas, kolaborasi akademisi dan masyarakat dapat menjadi langkah menuju usaha tambak yang lebih efisien serta berkelanjutan. Semangat Community Empowerment BINUS dalam kegiatan ini terletak pada upaya menghadirkan pengetahuan yang dapat digunakan masyarakat untuk memperkuat penghidupan mereka dan menjaga sumber daya perairan.

Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.

OUR TEAMS ARE HERE TO HELP
Siap berkolaborasi? Hubungi kami untuk konsultasi dan kolaborasi lebih lanjut.
CE Admin
cda@binus.edu
+62 812-9594-2902 / +62 812-9594-2904 (WA Only)