Loading
Loading...
Menu BINUS

Dari Sisa Dapur Menjadi Peluang, Saat Minyak Jelantah Diolah di Pulau Pramuka

Di banyak rumah, minyak jelantah sering berakhir sebagai sesuatu yang dibuang begitu saja. Mengalir ke saluran air, bercampur dengan limbah lain, lalu hilang tanpa pernah dipikirkan kembali. Padahal, di balik kebiasaan sederhana itu, ada dampak lingkungan yang perlahan menumpuk—dan ada pula potensi yang belum banyak disadari.

Pengelolaan limbah rumah tangga, termasuk minyak jelantah, masih menjadi tantangan di banyak wilayah, termasuk kawasan kepulauan. Keterbatasan akses informasi dan minimnya alternatif pengolahan membuat limbah ini sering dianggap tidak bernilai. Padahal, jika dikelola dengan tepat, minyak jelantah bisa menjadi produk yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi. Di sinilah pentingnya pemberdayaan masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap limbah—dari beban menjadi peluang.

Melihat kebutuhan tersebut, tim dosen BINUS University melalui program Hibah Kemdiktisaintek 2025 skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat hadir di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Dipimpin oleh Dr. Maryani, S.Kom., MMSI., CDMS., CBDMP., bersama Dr. Siswantini, S.E., Ak., M.I.Kom., dan Titi Indahyani, S.Sn., M.M., Ph.D., mereka berkolaborasi dengan Komunitas Rumah Literasi Hijau. Dalam kegiatan ini, masyarakat diajak langsung mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi dan sabun rumah tangga. Pendekatannya berbasis praktik, dilengkapi dengan pelatihan branding produk dan pemasaran digital agar hasil yang dibuat dapat berkembang menjadi peluang usaha yang nyata.

Dari proses tersebut, perubahan mulai terasa di tingkat komunitas. Peserta tidak hanya memahami teknik pengolahan, tetapi juga mulai melihat potensi ekonomi dari produk yang dihasilkan. Lilin aromaterapi dan sabun yang dibuat menjadi lebih dari sekadar hasil pelatihan—ia menjadi simbol perubahan cara pandang. Limbah yang sebelumnya tidak bernilai kini menjadi produk yang bisa digunakan, bahkan dijual. Ini membuka peluang usaha baru yang relevan dengan kebutuhan lokal sekaligus menjaga lingkungan sekitar.

Kisah dari Pulau Pramuka ini menunjukkan bahwa solusi terhadap masalah lingkungan bisa dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan bersama. Kolaborasi antara akademisi dan masyarakat menjadi kunci dalam menghadirkan perubahan yang berkelanjutan. Melalui Community Empowerment BINUS, inisiatif seperti ini diharapkan terus berkembang—mendorong masyarakat untuk melihat potensi di sekitar mereka, sekaligus membangun masa depan yang lebih berdaya dan ramah lingkungan.

Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.

OUR TEAMS ARE HERE TO HELP
Siap berkolaborasi? Hubungi kami untuk konsultasi dan kolaborasi lebih lanjut.
CE Admin
cda@binus.edu
+62 812-9594-2902 / +62 812-9594-2904 (WA Only)