Bagi sebuah desa wisata, setiap sudut memiliki cerita yang layak dikenal oleh lebih banyak orang. Ada air terjun yang menawarkan kesejukan, perkebunan yang memperlihatkan kehidupan pedesaan, hingga aktivitas peternakan yang memperkenalkan cara masyarakat mengolah kotoran sapi menjadi biogas. Di Desa Wisata Bendosari, Pujon, Kabupaten Malang, beragam potensi tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Namun, keindahan dan pengalaman yang tersedia belum tentu dapat dinikmati secara menyeluruh apabila wisatawan belum mengetahui tempat-tempat yang bisa mereka kunjungi.
Keterbatasan informasi dapat memengaruhi pengalaman wisatawan sekaligus peluang ekonomi masyarakat setempat. Berdasarkan laporan akhir kegiatan, sebagian pengunjung Desa Wisata Bendosari cenderung mendatangi satu atau dua lokasi saja karena belum mengetahui keberadaan destinasi lainnya. Sementara itu, pengelola menghadapi keterbatasan sumber daya manusia untuk memberikan informasi kepada setiap pengunjung dan mempromosikan kawasan secara digital. Kehadiran peta wisata digital Desa Bendosari menjadi salah satu solusi untuk membantu wisatawan mengenali berbagai potensi desa, merencanakan kunjungan dengan lebih mudah, dan membuka peluang agar manfaat ekonomi pariwisata dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim pengabdian kepada masyarakat dari Desain Komunikasi Visual, School of Design, Universitas Bina Nusantara, bekerja sama dengan Adidaya Initiative dan masyarakat Desa Wisata Bendosari dalam program Teknologi Tepat Guna, Peta Wisata Digital Desa Wisata Bendosari–Pujon. Kegiatan yang dilaksanakan pada 2024 ini dipimpin oleh Cahyaning Umul Chasanah Nursyifani, S.T., M.Ds., bersama Safitri Aprillia Putri, S.Sn., M.Ds., Asih Zunaidah, S.S., M.Li., Dr. Dra. Mita Purbasari Wahidiyat, MFA, dan Hayu Sasono. Tim memulai proses dengan berdiskusi bersama perangkat desa, warga, dan mitra, dilanjutkan dengan observasi serta penelusuran lokasi untuk mengidentifikasi titik-titik wisata. Melalui diskusi, ceramah, dan simulasi dalam bentuk pelatihan, tim menggali kebutuhan pengelola sekaligus merancang media informasi yang sesuai dengan karakteristik desa.
Hasil kegiatan ini berupa rancangan peta wisata digital yang dikembangkan untuk membantu pengunjung menemukan berbagai lokasi wisata di Bendosari dengan lebih mudah. Peta tersebut dirancang agar dapat diakses melalui ponsel atau perangkat digital lainnya, sehingga informasi wisata dapat dijangkau sebelum pengunjung tiba di lokasi. Prosesnya mencakup pengumpulan dan pengolahan data, perancangan desain, pembuatan prototipe, presentasi hasil, hingga penyerahan produk secara simbolis kepada mitra. Laporan akhir juga mencatat publikasi artikel ilmiah pada 31 Oktober 2024 dan pengajuan pencatatan hak kekayaan intelektual. Meski demikian, laporan belum menyajikan angka perubahan jumlah pengunjung atau peningkatan pendapatan setelah peta dikembangkan. Manfaat ekonomi dan pemerataan kunjungan karena itu masih menjadi peluang yang perlu didukung melalui pemanfaatan dan pengelolaan peta secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, kemajuan desa wisata membutuhkan keterhubungan antara potensi lokal, informasi yang mudah diakses, dan kesiapan masyarakat dalam mengelolanya. Peta wisata digital dapat menjadi langkah awal untuk memperkenalkan lebih banyak sisi Desa Wisata Bendosari kepada pengunjung, sekaligus membantu pengelola menyampaikan informasi secara lebih terarah. Kolaborasi antara akademisi, mitra, dan masyarakat menjadi penting agar solusi yang dirancang sesuai dengan kebutuhan lapangan dan dapat terus dikembangkan setelah kegiatan selesai. Melalui semangat Community Empowerment BINUS, pengetahuan dan kreativitas diharapkan dapat mendukung masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal, memperkuat daya tarik wisata, dan membangun peluang ekonomi yang berkelanjutan.

