Di balik setiap lembar batik Pekalongan, ada keterampilan tangan, ketekunan, dan cerita para pengrajin yang menjaga warisan budaya dari generasi ke generasi. Bagi banyak pelaku usaha kecil, batik menjadi sumber penghidupan sekaligus bagian dari identitas daerah. Namun, mempertahankan usaha batik di tengah perubahan selera konsumen membutuhkan upaya yang terus berkembang. Pengrajin perlu menjaga kualitas karya, memahami kebutuhan pasar, dan menemukan cara agar nilai budaya serta kepedulian terhadap lingkungan dapat dikenal lebih luas.


Kesadaran konsumen terhadap produk yang lebih ramah lingkungan membuka peluang baru bagi branding batik ramah lingkungan di Pekalongan. Penggunaan pewarna alami, pengelolaan sumber daya secara bijak, dan proses produksi yang memperhatikan lingkungan dapat menjadi nilai tambah bagi produk batik. Sayangnya, nilai tersebut belum selalu tersampaikan dengan baik melalui identitas merek dan pemasaran digital. Keterbatasan literasi digital, strategi pemasaran hijau, serta pendampingan branding membuat sebagian UMKM kesulitan membedakan produknya di tengah persaingan pasar. Padahal, cerita tentang proses pembuatan, kearifan lokal, dan upaya menjaga lingkungan dapat membantu konsumen memahami nilai di balik setiap karya batik.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Bina Nusantara menjalankan program Hibah Internal Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2025–2026 bertajuk Strategi Branding Green Batik Pekalongan Berbasis Eco-Friendly: Meningkatkan Daya Saing dan Jangkauan Pasar Berkelanjutan. Program yang berlangsung pada Juli 2025 hingga Maret 2026 ini dilaksanakan di Pekalongan dan dipimpin oleh Prof. Dr. Dra. Ngatindriatun, M.P., bersama anggota tim Dicky Jhon Anderson Butarbutar, Nurul Aini, Noor Udin, dan Teguh Sriwidadi. Melalui observasi, wawancara, diskusi kelompok, pelatihan, serta pendampingan, tim membantu pelaku UMKM memahami pemasaran hijau, menyusun narasi merek berbasis budaya lokal, dan mengembangkan identitas visual serta konten digital. Pendekatan ini mendorong pengrajin untuk memperkenalkan produk melalui cerita yang lebih kuat, sekaligus menyampaikan nilai lingkungan secara jujur dan bertanggung jawab.


Program ini melibatkan 20 UMKM batik di Pekalongan dalam pelatihan dan pendampingan branding. Materi yang diberikan mencakup strategi green marketing, pengembangan logo dan kemasan, penyusunan cerita produk, serta pembuatan konten foto dan video untuk pemasaran digital. Para pelaku usaha juga diperkenalkan pada pentingnya pelabelan lingkungan yang kredibel agar klaim ramah lingkungan sesuai dengan praktik produksi yang benar-benar dilakukan. Salah satu hasil program adalah penguatan pengetahuan mengenai branding berkelanjutan, yang turut didokumentasikan melalui luaran publikasi dan materi pembelajaran. Meski demikian, laporan akhir mencatat tantangan berupa terbatasnya jumlah pengrajin yang masih menjalankan praktik batik ramah lingkungan; beberapa di antaranya telah kembali menggunakan proses konvensional. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan branding perlu berjalan beriringan dengan keberlanjutan praktik produksi yang mendukungnya.
Menjaga masa depan batik Pekalongan membutuhkan kerja bersama yang memberi ruang bagi pengrajin untuk terus belajar, beradaptasi, dan mempertahankan nilai yang mereka yakini. Identitas budaya, keterampilan produksi, dan kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi fondasi bagi usaha yang lebih tangguh ketika dikomunikasikan secara tepat dan didukung praktik yang konsisten. Melalui Community Empowerment BINUS, kolaborasi antara akademisi dan pelaku UMKM diharapkan terus membuka peluang bagi pengembangan keterampilan, perluasan jangkauan pasar, serta penguatan usaha yang lebih bertanggung jawab. Dengan pendampingan berkelanjutan dan komitmen terhadap praktik ramah lingkungan, batik Pekalongan berpeluang menjangkau konsumen yang lebih luas tanpa kehilangan cerita dan nilai yang menjadikannya istimewa.

