Bagi pelaku usaha batik rumahan, menjaga kualitas kain dan motif merupakan bagian penting dari perjalanan usaha. Namun, ada tantangan lain yang tak kalah besar: bagaimana membuat orang mengenal produk, tertarik melihatnya, lalu memutuskan untuk membeli. Tantangan ini juga dirasakan Batik Pandan Arum, usaha batik khas Malang yang telah berdiri sejak 2010 di Dusun Dawuhan, Desa Pandanmulyo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang.
Penurunan permintaan selama pandemi Covid-19 berdampak pada penjualan Batik Pandan Arum. Usaha ini sempat mengalami penurunan omzet, mengurangi jumlah produksi, dan merumahkan sementara karyawan. Padahal, produknya memiliki karakter khas melalui motif seperti topeng Malang, Apel Batu, dan Tugu Balaikota, serta pilihan teknik batik tulis, batik cap, dan ecoprint. Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya promosi digital batik agar produk lokal dapat menjangkau calon pembeli lebih luas, terutama ketika pemasaran konvensional belum cukup untuk memperkenalkan keunikan produk kepada pasar.

Untuk membantu menjawab tantangan tersebut, tim pengabdian kepada masyarakat BINUS University menjalankan program Hibah Internal peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam promosi digital Batik Pandan Arum melalui fotografi busana pada 2023. Tim ini diketuai Hindam Basith Rafiqi, S.Sn., M.Sn., bersama Yudhistya Ayu Kusumawati, S.Sn., M.Ds., dan Dr. Lasmy, S.Kom., M.M. Berlokasi di Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, kegiatan ini berfokus pada peningkatan keterampilan pemasaran melalui penyuluhan, diskusi, pelatihan, dan pendampingan. Mitra diajak memahami peran fotografi busana dalam memperkenalkan produk, memotret batik dengan konsep yang sesuai, membuat konten media sosial, serta menyusun katalog elektronik atau e-catalog menggunakan aplikasi sederhana seperti Canva.
Dari proses tersebut, Batik Pandan Arum memperoleh materi visual yang dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk secara lebih menarik. Tim menghasilkan foto katalog dan foto editorial yang menonjolkan warna, bahan, serta motif khas batik. Foto-foto ini dirancang untuk mendukung pembuatan e-catalog dan promosi melalui media sosial maupun platform digital lainnya. Pelatihan juga diarahkan agar mitra mampu mengembangkan konten pemasaran secara mandiri. Meski demikian, laporan akhir tidak mencantumkan angka pasti jumlah peserta, peningkatan omzet, atau pertumbuhan penjualan setelah kegiatan. Karena itu, hasil yang dapat ditegaskan dari laporan adalah tersedianya materi fotografi dan penguatan keterampilan pemasaran digital sebagai bekal pengembangan usaha selanjutnya.

Perjalanan Batik Pandan Arum menunjukkan bahwa produk lokal membutuhkan dukungan yang sesuai dengan tantangan zamannya. Ketika keterampilan membatik bertemu dengan kemampuan mengemas cerita produk melalui foto dan media digital, peluang untuk dikenal oleh calon pelanggan menjadi semakin terbuka. Kolaborasi antara akademisi dan pelaku usaha dapat menjadi langkah awal untuk membangun kemandirian pemasaran, menjaga keberlangsungan usaha, serta mendukung ekonomi keluarga dan masyarakat sekitar. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, keterampilan tersebut diharapkan terus berkembang dan membantu batik khas Malang menemukan ruangnya di pasar yang lebih luas.

