Di sekitar kita, tanaman lidah mertua sering dijumpai sebagai tanaman hias di halaman rumah atau sudut bangunan. Daunnya yang panjang dan kokoh membuat tanaman ini mudah dikenali, tetapi potensi serat di dalamnya masih belum banyak dimanfaatkan untuk menghasilkan produk dengan fungsi baru. Bagi pelaku usaha kecil yang mengolah bahan alami, menemukan cara untuk mengembangkan bahan baku menjadi produk yang lebih menarik dapat membuka peluang untuk memperluas usaha dan menjangkau pasar yang berbeda.
Pemanfaatan bahan alami menjadi semakin relevan ketika dunia desain interior mulai memberi perhatian pada material yang memiliki karakter visual khas dan mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan. Di sisi lain, UMKM yang mengolah serat tanaman masih menghadapi tantangan dalam mengembangkan teknik produksi, menjaga konsistensi kualitas, dan menciptakan produk dengan nilai tambah. Melalui inovasi material serat lidah mertua, tanaman Sansevieria trifasciata berpeluang dikembangkan menjadi pelapis transparan untuk pencahayaan, sehingga karakter alami serat dapat hadir sebagai bagian dari desain interior sekaligus membuka kemungkinan pengembangan produk bagi pelaku usaha lokal.
Peluang tersebut menjadi dasar kegiatan pengabdian kepada masyarakat BINUS pada 2025 melalui skema hibah HIP Teknologi Tepat Guna (TTG), dengan judul “Utilization of Sansevieria Trifasciata Plant Fibers in the Production of Transparent Cladding Materials for Lighting”. Kegiatan yang berlangsung di Kabupaten Subang ini diketuai oleh R. Asep Ahadiat Gandawijaya, S.Sn., S.Ars., M.T., bersama anggota Bayu Ramadhan Wardani Edward, Friska Amalia, S.Ds., M.Ds., Iftika Suliastuti, dan Siti Chadijah, S.Sn., M.Sn. Tim juga melibatkan mahasiswa Hawa Cahaya Ramadhan dan Laurensia Aurelia Carmellita Pradila, serta bermitra dengan UMKM Alfiber. Melalui pendekatan berbasis riset terapan dan kolaborasi, tim mengeksplorasi proses pemilahan daun, ekstraksi dan pembersihan serat, hingga laminasi menggunakan bioresin. Pengujian dilakukan pada beberapa ketebalan material untuk melihat hubungan antara transparansi, kekuatan, fleksibilitas, dan efek cahaya yang dihasilkan.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa material dengan ketebalan 4 mm memberikan keseimbangan yang baik untuk kebutuhan pencahayaan interior. Sampel ini mampu meneruskan cahaya sebesar 74% dan memiliki kekuatan tarik sebesar 42 MPa, dengan karakter semi-translusen yang membantu menyebarkan cahaya sekaligus menampilkan pola serat alami. Sebagai pembanding, ketebalan 2 mm meneruskan cahaya sebesar 81%, sedangkan ketebalan 6 mm sebesar 62%. Temuan ini memberi gambaran bahwa ketebalan material perlu disesuaikan dengan fungsi dan efek visual yang diinginkan. Bagi UMKM Alfiber, eksplorasi tersebut menyediakan dasar teknis untuk mempertimbangkan pengembangan material ke produk seperti kap lampu, panel dekoratif, dan elemen interior lainnya. Namun, laporan akhir belum mencantumkan data kuantitatif mengenai peningkatan penjualan atau pendapatan mitra, sehingga peluang ekonomi tersebut masih perlu dikembangkan dan dievaluasi lebih lanjut.

Perjalanan dari sehelai daun menjadi material pencahayaan memperlihatkan bagaimana sumber daya lokal dapat membuka ruang bagi kreativitas dan pengembangan usaha. Kolaborasi akademisi, mahasiswa, dan UMKM membantu mempertemukan pengetahuan tentang material dengan kebutuhan nyata dalam proses produksi dan desain. Agar manfaatnya berlanjut, langkah berikutnya mencakup penyempurnaan teknik pengolahan, penjagaan konsistensi kualitas, serta pengembangan produk dan strategi pemasaran yang sesuai dengan kemampuan mitra. Melalui pendekatan seperti ini, Community Empowerment BINUS turut mendukung upaya agar inovasi yang lahir dari potensi lokal dapat terus dipelajari, diterapkan, dan dikembangkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus mendorong praktik desain yang lebih berkelanjutan.

