Loading
Loading...
Menu BINUS

Dari Limbah Kain Menjadi Tas Promosi, Merawat Identitas Kajoetangan Heritage

Di balik aktivitas wisata di kawasan Kajoetangan Heritage, Kota Malang, ada para pelaku UMKM yang terus berupaya mengembangkan produk agar menarik perhatian pengunjung. Oleh-oleh khas menjadi bagian dari pengalaman wisata, tetapi kemasan yang sederhana terkadang belum mampu menggambarkan karakter kawasan bersejarah tersebut. Pada saat yang sama, sisa kain dari usaha gorden masih menyimpan potensi yang dapat diolah kembali. Bagi para pengrajin, potongan kain yang tersisa bisa menjadi peluang untuk menciptakan produk baru selama tersedia keterampilan dan cara pengolahan yang tepat.

Melalui Hibah Pengabdian kepada Masyarakat BINUS tahun 2025 dengan skema HIP BINUS Peduli Lingkungan, tim dosen Universitas Bina Nusantara mendampingi pelaku UMKM di kawasan Kajoetangan Heritage, Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Program bertajuk Dari Limbah Menjadi Laba: Inovasi Packaging Kreatif sebagai Media Promosi Kajoetangan Heritage ini dipimpin oleh Andi Pramono, S.T., M.Arch., bersama anggota Lutfi Tri Atmaji, S.T., M.Sn., Agung Purnomo, S.P., MBA, dan Dr. Mulyani Karmagatri. Tim juga melibatkan empat mahasiswa, yaitu Marcella Nadya Chantika Prameswari, In Naka Laras Resti Hageng Mangir, Dhesya Gladis Gratia Sondakh, dan Rajwa Aurellia Arindra Adhwa. Pendampingan berlangsung melalui dua pelatihan utama, pada 30 Juli dan 12 November 2025. Dalam prosesnya, peserta mempraktikkan pembuatan tas dari potongan kain serta pengaplikasian desain menggunakan teknik sablon digital Direct to Film (DTF). Tim turut mengolah foto ikon Kajoetangan Heritage menjadi ilustrasi bergaya watercolor dengan bantuan kecerdasan buatan (AI), sehingga unsur visual kawasan dapat diterapkan pada produk yang dibuat.

Salah satu hasil yang terlihat dari program ini adalah terciptanya goodie bag berbahan limbah kain gorden dengan ilustrasi ikon rumah konservasi Kajoetangan Heritage. Peserta juga mendapat kesempatan untuk mengembangkan tas secara mandiri menggunakan kain perca yang dibawa pulang setelah pelatihan pertama. Proses tersebut memberi ruang bagi pengrajin untuk mencoba bentuk dan ukuran produk sesuai bahan yang tersedia. Meski begitu, laporan akhir mencatat kendala saat memindahkan desain DTF ke permukaan tas yang lebih besar menggunakan setrika. Hasil tempel belum konsisten, sehingga penggunaan mesin heat press profesional menjadi kebutuhan penting untuk mendukung kualitas produk. Laporan belum mencantumkan angka peningkatan omzet atau penjualan, tetapi pengalaman pelatihan ini memperlihatkan potensi pengembangan produk sekaligus kebutuhan peralatan agar proses produksi dapat berjalan lebih mandiri.

Upaya mengolah sisa kain menjadi produk yang memiliki identitas lokal membutuhkan proses belajar, percobaan, dan kerja sama yang berkelanjutan. Bagi pelaku UMKM Kajoetangan Heritage, keterampilan menjahit, pemanfaatan bahan sisa, dan pengenalan teknik branding dapat menjadi bekal untuk mengembangkan pilihan produk di masa mendatang. Dukungan lanjutan, termasuk akses terhadap peralatan produksi yang sesuai, juga penting agar hasil pelatihan dapat diterapkan secara konsisten. Melalui kolaborasi akademisi dan masyarakat, Community Empowerment BINUS mendorong pemanfaatan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar menjadi peluang yang relevan dengan kebutuhan warga. Dari potongan kain yang semula tersisa, tumbuh gagasan untuk menghadirkan produk yang bermanfaat sekaligus membawa cerita tentang identitas Kajoetangan Heritage.

Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.

OUR TEAMS ARE HERE TO HELP
Siap berkolaborasi? Hubungi kami untuk konsultasi dan kolaborasi lebih lanjut.
CE Admin
cda@binus.edu
+62 812-9594-2902 / +62 812-9594-2904 (WA Only)