Di Desa Wisata Wringinanom, Kabupaten Malang, enceng gondok tumbuh subur di perairan dan saluran air sekitar kawasan wisata. Tanaman yang mudah berkembang ini kerap dianggap mengganggu karena dapat menghambat aliran air dan mengurangi keindahan lingkungan. Bagi warga yang sehari-hari menggantungkan hidup pada pertanian, peternakan, dan kegiatan wisata, keberadaan enceng gondok menjadi persoalan yang perlu ditangani. Namun, di balik tanaman yang selama ini dipandang sebagai gulma, tersimpan peluang untuk menciptakan produk kreatif yang dapat menambah nilai ekonomi sekaligus memperkenalkan potensi lokal kepada wisatawan.
Pemanfaatan enceng gondok menjadi produk ramah lingkungan membuka kesempatan bagi masyarakat untuk melihat sumber daya di sekitarnya dengan cara berbeda. Tanaman yang sebelumnya dibiarkan menumpuk dapat diolah menjadi kerajinan yang memiliki fungsi dan nilai jual, seperti sandal, tas, dompet, keranjang, serta dekorasi rumah. Tantangannya terletak pada keterampilan produksi, kualitas hasil kerajinan, kemasan, dan pemasaran. Selama ini, pemasaran produk masyarakat masih banyak mengandalkan penjualan ke pusat oleh-oleh dan keikutsertaan dalam pameran. Pengembangan produk dan pemasaran digital pun menjadi penting agar hasil kreativitas warga lebih mudah dikenal serta memiliki peluang menjangkau konsumen di luar kawasan wisata Wringinanom.

Melihat potensi tersebut, tim dosen Universitas Bina Nusantara menjalankan program Hibah Internal pengabdian kepada masyarakat bertajuk Pesona Enceng Gondok: Transformasi Limbah Menjadi Produk Inovasi Ramah Lingkungan sebagai Oleh-Oleh Khas Wisata Wringinanom pada 2025. Kegiatan yang berlangsung di Desa Wisata Wringinanom ini dipimpin oleh Yongkie Angkawijaya, S.Sn., M.Ds., Ph.D., bersama anggota Dr. Lasmy, S.Kom., M.M., Elsa Graciana Nugraeni, S.Ds., M.Ds., dan Bhekti Setyowibowo, S.Ikom., M.Hum., serta melibatkan mahasiswa Gesty Dyah Witarini dan Viona Putri Salim. Melalui penyuluhan, diskusi, pelatihan, dan pendampingan, masyarakat diperkenalkan pada proses pengolahan enceng gondok, mulai dari pemanenan dan pengeringan serat hingga pembuatan kerajinan. Pendampingan juga mencakup pengembangan label dan kemasan, identitas merek, serta pembuatan konten promosi untuk media sosial. Pendekatan ini membantu menghubungkan keterampilan produksi dengan kebutuhan pemasaran produk sebagai oleh-oleh khas desa wisata.
Proses pendampingan membuka ruang bagi warga untuk mempelajari keterampilan baru, mulai dari mengolah serat dan membuat anyaman hingga menata tampilan produk agar lebih menarik bagi calon pembeli. Program ini juga menghasilkan perangkat branding untuk produk Brogger Craft, antara lain logo, kartu ucapan, konten media sosial, serta materi promosi berupa banner. Produk sandal berbahan enceng gondok menjadi salah satu bentuk inovasi yang dikembangkan untuk memperkenalkan potensi lokal Wringinanom kepada pasar wisata. Meski demikian, perjalanan pengembangan usaha masih menghadapi tantangan, seperti cuaca yang memengaruhi proses pengeringan, keterbatasan waktu produksi, konsistensi kualitas, modal, dan kemampuan pemasaran digital. Kondisi ini menunjukkan bahwa keterampilan mengolah bahan baku perlu berjalan beriringan dengan pendampingan usaha agar masyarakat dapat mengembangkan produk secara bertahap dan berkelanjutan.

Ke depan, keberlanjutan usaha kerajinan enceng gondok membutuhkan keterlibatan masyarakat, pengelola desa wisata, pemerintah setempat, dan mitra pendamping. Konsistensi produksi, penguatan identitas merek, serta perluasan pemasaran dapat membantu produk lokal menemukan tempat di tengah beragam pilihan oleh-oleh wisata. Upaya ini juga sejalan dengan perhatian terhadap pekerjaan produktif dan pertumbuhan ekonomi serta pengelolaan ekosistem daratan, sebagaimana tercermin dalam SDG 8 dan SDG 15 yang menjadi fokus program. Melalui Community Empowerment BINUS, kolaborasi antara akademisi dan masyarakat diharapkan terus membuka ruang bagi pemanfaatan potensi lokal secara kreatif. Dari enceng gondok yang semula dianggap mengganggu, warga Wringinanom memiliki kesempatan untuk membangun produk berciri khas daerah sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan tempat mereka tinggal.

