Membangun merek pakaian sendiri memerlukan keberanian untuk mencoba, memahami konsumen, dan menemukan ciri khas yang membedakan produk dari pilihan lain di pasar. Hendjico Production, usaha konveksi yang beroperasi sejak 2014, telah mengerjakan beragam model pakaian berdasarkan permintaan konsumen. Pengalaman tersebut kemudian mendorong pengembangan POLUKids, merek fesyen anak yang memanfaatkan denim sebagai salah satu bahan utama. Bagi usaha ini, tantangannya adalah menghasilkan desain yang sesuai dengan karakter anak sekaligus mengembangkan produk yang memiliki identitas sendiri.

Persaingan di industri fesyen bergerak cepat mengikuti perubahan tren dan selera konsumen. UMKM perlu memperhatikan pilihan bahan, desain, dan cara memperkenalkan produk kepada pasar. Pengembangan fesyen anak berkelanjutan menjadi relevan ketika pelaku usaha berusaha menggabungkan kreativitas desain dengan pemanfaatan bahan yang tersedia dan pengelolaan usaha yang realistis. Penguatan kemampuan desain dan pemasaran dapat membantu merek lokal membangun identitas produk yang lebih jelas.
Melalui Hibah Pengabdian kepada Masyarakat tahun 2023, tim dosen BINUS School of Computing and Creative Arts menjalankan program Pengembangan Desain Fesyen Anak POLUKids dengan Konsep Sustainability Fashion. Program dipimpin Dicky Maryoga Hutadjulu, S.Sos., M.M., bersama Ratna Dewi Paramita, Pantri Heriyati, Grasheli Andhini, Artha Sejati Andhini, Almira Firmansyah, dan Indita Karina. Kegiatan berangkat dari diskusi kebutuhan mitra pada Januari 2023, kemudian dilanjutkan workshop pada 7 Juni 2023 yang membahas promosi media sosial, fitur Instagram, dasar pemasaran 4P, tren fesyen, value-added design, serta tekstil dan material. Pada 3 Oktober 2023, tim menyerahkan alat jahit sekaligus mendampingi pembuatan sketsa desain pakaian anak.

Kegiatan menghasilkan pendampingan desain dan pemasaran serta dukungan peralatan jahit yang tercatat dalam laporan. Workshop memberi mitra kesempatan mempelajari promosi media sosial, memahami tren, dan mengeksplorasi desain pakaian anak. Penyerahan alat jahit pada Oktober menjadi dukungan konkret bagi proses pengembangan produk. Namun, laporan belum memberikan angka terukur tentang pertumbuhan penjualan, jumlah koleksi yang dipasarkan, atau peningkatan pendapatan setelah program. Dampak yang dapat dipastikan adalah terlaksananya workshop, pendampingan desain, dan penyerahan peralatan.
Pengalaman POLUKids menunjukkan bahwa pengembangan usaha fesyen membutuhkan proses belajar yang terus berlanjut. Pengetahuan desain dapat membantu usaha merancang produk sesuai kebutuhan pasar, sementara keterampilan pemasaran membantu produk tersebut dikenal konsumen. Kolaborasi dosen dan pelaku usaha memberi ruang untuk menerapkan pengetahuan secara langsung sesuai kebutuhan mitra. Melalui Community Empowerment BINUS, pendampingan seperti ini diharapkan dapat memperkuat kreativitas, keterampilan, dan daya adaptasi UMKM fesyen lokal.

