Bagi sebagian anak dan remaja, mengenal alat musik tradisional bisa menjadi pengalaman baru yang membuka rasa ingin tahu tentang kekayaan budaya Indonesia. Museum memiliki peran penting untuk mempertemukan generasi muda dengan warisan tersebut. Namun, pengalaman belajar di museum juga dipengaruhi oleh cara koleksi ditampilkan. Ketika alat musik hanya dapat dikeluarkan saat kunjungan tertentu dan belum memiliki tempat pajang yang memadai, kesempatan pengunjung untuk mengenal serta berinteraksi dengan koleksi menjadi terbatas.
Kondisi itu menjadi tantangan bagi Museum Musik Indonesia (MMI) di Malang, Jawa Timur. Museum yang menyimpan berbagai rekaman musik dan alat musik menghadapi keterbatasan furnitur, ruang pamer, serta fasilitas untuk menampilkan alat musik tradisional Nusantara. Perpindahan lokasi museum juga membuat pengelola perlu menyesuaikan penataan koleksi dengan ruang yang tersedia. Dalam situasi ini, fasilitas edukasi Museum Musik Indonesia menjadi penting agar koleksi dapat dipajang dengan lebih aman sekaligus membantu pengunjung memahami nilai sejarah dan budaya musik Indonesia.

Melalui program Hibah Pengabdian kepada Masyarakat tahun 2025 dengan skema HIP BPL–TTG (Binus Peduli Lingkungan–Teknologi Tepat Guna), tim dosen dan mahasiswa BINUS merancang fasilitas hiburan edukasi yang menyesuaikan kebutuhan pengelola museum. Kegiatan yang diketuai oleh Tiara Ika Widia Primadani, S.T., M.Ds., bersama anggota dosen Hilmi Dzakaaul Islam, S.Ds., M.Ds.; Nabilla Retnaning Dewanti, S.T., M.A.; Wahyu Kurnia Dewi, S.Sn., M.Sn.; dan Asteria Nabila Noviandari Ernanda, S.Ds., M.Ds., turut melibatkan mahasiswa Danda Yohanes Saputro, Lia Aura Rahmadani, dan Vito Suryatama. Mereka menggunakan pendekatan Design Thinking, dimulai dengan observasi dan wawancara bersama pengelola, dilanjutkan dengan perumusan kebutuhan, pengembangan ide, pembuatan prototipe, serta pengujian dan penyempurnaan desain. Salah satu fokusnya adalah furnitur untuk alat musik siter, yang perlu ditampilkan secara aman dan dapat digunakan untuk mendukung kegiatan edukasi.

Dari proses tersebut, tim menyelesaikan prototipe furnitur skala 1:1 yang dirancang untuk membantu penataan dan pemindahan alat musik dengan lebih fleksibel. Rancangan mempertimbangkan kestabilan, perlindungan koleksi, kemudahan mobilisasi, serta penyampaian informasi edukatif tentang alat musik. Pengelola museum turut memberikan masukan saat proses pengembangan dan pengujian desain, termasuk mengenai kebutuhan pengunci roda, lapisan pelindung, dan ruang penyimpanan aksesori. Prototipe ini menjadi luaran utama kegiatan, disertai poster, video kegiatan, dan publikasi ilmiah. Laporan akhir mencatat prototipe telah selesai, sementara artikel ilmiah berjudul “Utilizing Technology to Enhance Visitor Engagement in Music Museums” telah dipresentasikan di ICEED 2025 dan sedang dalam proses penerbitan. Meski demikian, laporan belum mencantumkan data kuantitatif yang dapat menunjukkan besarnya perubahan pengetahuan atau perilaku pengunjung.
Pengalaman di Museum Musik Indonesia memperlihatkan bahwa upaya pelestarian budaya juga membutuhkan perhatian pada hal-hal praktis, seperti cara menyimpan, memindahkan, dan memperkenalkan koleksi kepada masyarakat. Ketika pengelola museum terlibat dalam menentukan kebutuhan dan menguji rancangan, fasilitas yang dihasilkan memiliki peluang lebih besar untuk digunakan sesuai kondisi nyata di lapangan. Perawatan furnitur, pemanfaatannya dalam kegiatan edukasi, serta evaluasi penggunaan secara berkala menjadi bagian penting agar manfaatnya dapat berlanjut. Kolaborasi antara akademisi dan komunitas melalui Community Empowerment BINUS diharapkan dapat terus membuka ruang belajar yang lebih dekat, aman, dan menarik bagi masyarakat, sekaligus menjaga agar warisan musik Indonesia tetap dikenal oleh generasi berikutnya.

